Senin, 30 Juli 2018

PURNA PASKIBRAKA INDONESIA 2013 KOTA KENDARI


Ahmad Dwi Priyono (Jawa)
SMKN 2 KENDARI

Achmad Mubaraq
SMAN 1 KENDARI

Alhasym Pratanto (Dampok 8)
SMAN 1 KENDARI

Andi Usnul
SMAN 1 KENDARI

Apriatin
MADRASAH ALIYAH (1) KENDARI

Arif Prastyo
SMAN 1 KENDARI

Bagus Putu
SMAN 4 KENDARI

Dea Dinda
KARTIKA KENDARI

Elyt Restu
SMAN 1 KENDARI

Fani Andrianti (Baki 1)
SMKN 1 KENDARI

Febriyanti Tahir (Bu’ Lurah)
SMAN 9 KENDARI

Gito Mustafa (Dampok 17)
SMKN 2 KENDARI

Gusti Putu Arya
SMAN 4 KENDARI

Husni Mubarak (Olan)
SMAN 4 KENDARI

Muh. Ilham
SMKN 1 KENDARI

Muh. Masdan
SMKN 2 KENDARI

Niluh Dyan
SMAN 1 KENDARI

Nur Fitriani Djufry
SMAN 4 KENDARI

Putra Hanuddin
SMKN 2 KENDARI

Putri Mega Wijayanti
SMAN 4 KENDARI

Ratna Puspita Sari
SMAN 1 KENDARI

Rezky Nahdiati (kiki)
SMAN 4 KENDARI

Saimin
SMKN 2 KENDARI

Tiara Sagita
KARTIKA KENDARI

Widya Astuti (Wiwi)
SMAN 4 KENDARI

Yeyen (Baki 2)
SMAN 2 KENDARI

Zulaeha Marzuki (Leha)
SMAN 2 KENDARI

Minggu, 29 Juli 2018

RAPAT KERJA (RAKER) DPP IKA STM/SMK NEGERI 2 KENDARI


RAPAT KERJA (RAKER) DPP IKA STM/SMK NEGERI 2 KENDARI
Oleh: PUTRA HANUDDIN

Rencana itu baik, tapi ada aksi itu lebih baik” Kata Kepala SMKN 2 Kendari, Kanda Muh. Syarif Gamoro, ST. dalam sambutannya pada kegiatan Peletakan Batu Pertama Pembangunan Sekretariat IKA STM/SMKN 2 Kendari.
            Pagi yang sangat indah untuk memulai niat yang sangat mulia. Peletakan batu menjadi agenda pertama, dijeda dengan onde-onde buatan alumni Roda Gila. Pukul 08-00 pagi Waktu Indonesia Tengah (WITA) sudah mulai berdatangan para Dewan Pengurus Pusat (DPP) Ikatan Alumni  Sekolah Teknologi Menengah ( IKA STM) atau Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 2 Kendari, Sulawesi Tenggara. Juga anggota dan pengurus OSIS STM/SMKN 2 Kendari. Mereka datang untuk menjadi saksi dalam sejarah berdirinya sekretariat (baru) bagi Alumni yang letaknya tidak jauh dari lingkungan sekolah. Setelah jeda dan onde-onde sudah jadi sarapan yang sangat membahagiakan, lanjut dengan menuju ke salah satu hotel di jalan By Pass. Melanjutkan kegiatan akhir pekan bersama IKA STM (2018-2021), dalam rangkaian Rapat Kerja (RAKER) DPP IKA STM/SMK NEGERI 2 KENDARI. Di hotel, tepatnya ruangan Jasmine sudah menunggu beberapa panitia dan di meja registrasi ada Sandriati Tongasa dan rekannya, Dita. Menyambut sekaligus mengarahkan para alumni untuk mengisi kertas Registrasi Peserta sebelum masuk ke ruangan.
            Di dalam ruangan Jasmine, AC memang mendinginkan tapi para alumni menghangatkan dengan saling lempar canda tawa dan rasa “Kembali Bersatu” juga hadir melengkapi ruangan. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 Waktu Indonesia Tengah, sambil menunggu Plt. Gubernur Sulawesi Tenggara para peserta yang hadir digladi mengikuti susunan acara yang panitia sediakan, kemudian Tari Lulo Kreasi* mengawali acara kegiatan setelah itu acara secara otomatis dipimpin oleh pembawa acara (Kak’) Yusak Yudha, diikuti dengan menyanyikan bersama Lagu Indonesia Raya (1 Stanza) yang dirigennya adalah (Kak’) Sri Wahyuni**.
            Setelah menyanyi, para hadirin yang awalnya sebelum menyanyi disuruh berdiri, dipersilahkan untuk duduk kembali oleh pembawa acara. Lalu dua video singkat diputar. Video pertama tentang rangkaian kegiatan yang sudah pernah IKA STM laksanakan, dan video yang kedua adalah Rencana Pembangunan Sekretariat IKA atau Rumah Kreatif IKA. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan-sambutan.
            Pertama, sambutan dari Ketua Umum DPP IKA STM/SMKN 2 Kendari, (Kanda) Muh. Tahir, S.Hut. Dilanjutkan sambutan kedua dari Kepala Sekolah STM/SMKN 2 Kendari, (Kanda) Muh. Syarif Gamoro, ST. dan sambutan terakhir dari Plt Gubernur Sulawesi Tenggara yang kali ini diwakili oleh Bapak Ir. H. Burhanuddin, M.Si., beliau menyampaikan kalau Plt Gubernur sangat ingin menghadiri undangan IKA STM hanya bertabrakan dengan undangan dari Presiden di Makassar jadi dengan ucapan maaf beliau mengamanahkan kepadanya. Selain menyambut hangat kegiatan-kegiatan IKA STM Kendari beliau juga menambahkan dengan cerita pengalaman pribadinya; “…Saya ini alumni SMA di Makassar. Anak STM lewat? Ah, kami minggir dulu.” Kalimat beliau dengan nada jenaka, disambut tawa oleh semua peserta. “…Begitu berkharismanya anak STM ini, karena gambarnya Roda Gila.” Menutup cerita pengalamannya. Beliau lalu meminta maaf kembali atas nama Plt Gubernur karena tidak sempat menghadiri undangan, lalu beliau berpesan; “Jangan hanya ber- ’Say Hello’ dalam satu grup…” salah satu pesan beliau dalam sambutannya sebelum menutup sambutannya dan membuka secara resmi acara Rapat Kerja DPP IKA STM/SMKN 2 Kendari yang disimbolkan dengan pemukulan gong sebanyak tiga kali.
            Setelah dibuka secara resmi, pembawa acara melanjutkan kegiatan dengan mempersilahkan (Kanda) Adam Salomo untuk memimpin pembacaan doa. Lalu acara selanjutnya adalah istirahat, diisi dengan minuman hangat teh dan kopi, juga camilan enak. Selesai istirahat, pembawa acara mempersilahkan Steering Commite untuk mengisi tempat yang sudah disediakan, juga mempersilahkan (Kanda) Baharun, SH. selaku pimpinan sidang untuk mengambil alih waktu dan tempat. Tidak butuh waktu lama, pimpinan sidang melaksanakan Sidang Pleno Pertama (I), hasilnya adalah mengesahkan jadwal acara dan tata tertib Raker DPP IKA STM/SMKN 2 Kendari, hasil keputusan bersama. Setelah palu diketuk, lanjut dengan Sidang Pleno Kedua (II), adalah membagi peserta yang kurang lebih 50 orang menjadi dua komisi, yang masing-masing komisi membahas Peraturan Organisasi (PO) DPP IKA STM/SMKN 2 Kendari yang panitia sudah bagikan rangkaian program kerja ke masing-masing peserta, di dalamnya mencakup program-program kerja DPP IKA/SMKN 2 Kendari periode 2018 sampai 2021.
            Pimpinan sidang terus menerima saran-saran dari semua peserta Raker. Kemudian setelah para peserta sudah terbagi menjadi dua komisi, pimpinan sidang menjeda selama satu jam untuk para peserta istirahat, sholat, dan makan (Ishoma), diperjelas dengan suara ketukan palu pimpinan sidang. Istirahat diisi dengan hiburan pembacaan puisi oleh (Kanda) Darwis ’98 dengan judul puisinya adalah RODA GILA***, yang beliau buat lima menit sebelum tampil di depan; “Sebelumnya saya katakan, ada satu kebiasaan buruk saya. Kalau lagi duduk ketemu pulpen sama kertas, pasti ada saja yang jadi.” Kata beliau sebelum membacakan puisinya.
Es sarang burung menyambut para peserta di meja makan, juga antrian panjang-melingkar para peserta yang mengantri mengambil makan siang sambil memegang piring dan sendok makan, berbaur di dalamnya para penari Lulo Kreasi tadi pagi, para pengurus OSIS, anggota IKA Alumni dan Para DPP IKA STM.
            Suara palu pimpinan sidang berbunyi, menandakan waktu Ishoma sudah selesai. Meja dan kursi sudah diatur oleh panitia dan para pengurus OSIS menjadi dua kelompok. Pertama untuk Komisi I dan satunya untuk Komisi II. Lalu diskusi tiap-tiap komisipun dipersilahkan oleh pimpinan sidang dengan tidak lupa mengetuk palu sidangnya.
            Sidang Pleno Ketiga (III), pemaparan dan penetapan hasil sidang komisi. Dimulai dengan pemaparan dari juru bicara Komisi I, ditanggapi oleh peserta dari Komisi II. Lanjut dengan pemaparan tambahan dari komisi II, dan para peserta di Komisi I dipesilahkan untuk memberi tambahan setelah pemaparan selesai dipaparkan oleh juru bicara Komisi II. Ruangan tetap saja hangat dengan Tim Hore (dadakan) dari pengurus OSIS yang menghilangkan rasa lelahnya dengan beberapa kali meneriakkan slogan IKA STM, “Kembali Bersatu”. Diikuti tepukan tangan yang sangat meriah.
            Jam dinding menunjukkan waktu sudah hampir habis, para peserta sudah mengeluarkan semua saran dan pendapatnya masing-masing. Pimpinan sidang merangkum semua suara-ide dari peserta. Kemudian sebelum sidang ditutup, pimpinan sidang menyerahkan hasil Raker DPP IKA STM/SMKN 2 Kendari dari Sterring Commite kepada Ketua Umum DPP IKA STM/SMKN 2 Kendari. Palu diketuk, mengartikan sidang telah selesai, pembawa acara kembali mengambil alih waktu dan tempat, kemudian mempersilahkan Ketua Umum DPP IKA STM/SMKN 2 Kendari untuk memberi sambutan sekaligus menutup secara resmi kegiatan Rapat Kerja DPP IKA.
            Merencanakan itu penting. Melaksanakan rencana itu lebih penting.” Pesan lisan dari Kepala Sekolah Menengah Kejuruan, Kanda Muh. Syarif Gamoro.
Kota Kendari, 29 Juli 2018.
*              https://www.youtube.com/watch?v=cBZgHAVtq0s
**           
***          https://www.youtube.com/watch?v=CGQzMeU5bew

Sabtu, 21 Juli 2018

SULTRA ISLAND CARE



Sekilas Tentang Pulau ini;
-          Dusun Baho terletak di Teluk Luar Kendari tepatnya di Desa Labuan Beropa, Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara.
-          Jumlah penduduk Dusun Baho berjumlah 1.235 jiwa dengan 355 KK. Dengan berbagai macam suku yaitu Bajo, Bugis, Muna, Buton, dan Tolaki. Laut merupakan sumber utama mata pencaharian mereka.
-          Di Dusun Baho ada sekitar 255 anak yang berstatus pelajar SD dan SMP yang di mana jumlah siswa SD sebanyak 169 siswa dan jumlah siswa SMP sebanyak 86 siswa, jumlah pengajar SD sebanyak 7 orang sedangkan pengajar SMP sebanyak 7 orang dan ditambah admin 2 orang.

Permasalahan;
-          Banyak anak memilih membantu orang tua melat ketimbang bersekolah
-          Akses ke sekolah, cuaca, biaya, transportasi, kekurangan bangku-meja, tenaga pengajar, ruang kelas, perpustakaan, serta seragam sekolah, buku bacaan.
-          Tenaga kesehatan kurang, akses ke pustu, MCK umum kurang terawatt, MCK kurang rumah tangga tak ada.
-          Adanya tuan tanah (Dusun 3-4)
-          Listrik nyala dari jam 18.00-21.00 WITA
-          Penyakit di budidaya lobster
-          Tempat pembuangan sampah

ADA LIMA AGENDA PENTING UNTUK MENANGGULANGI MASALAH DI ATAS
Contact Person:
            0813 4000 8948 (Mawan)
            0822 9222 4843 (Aswar)
            Instagram: @sultraislandcare
            G-mail: sultraislandcare@gmail.com

Lima Agenda Penting;
1.      Camp pesisir
2.      Kelas impian
3.      Pustaka pesisir
4.      Kompetisi pesisir
5.      Jelajah pesisir

Camp Pesisir;
1.      Bidang Edukasi
- Penyuluhan
- Penyebaran Leaflet
2.      Bidang Kesehatan
- Pemeriksaan Kesehatan (Cek Berat Badan/Tinggi Badan, Tekanan Darah, dll).
- Diagnosis Dokter (Konsultasi Kesehatan dan Obat-obatan).
3.      Pameran Pesisir
Malam pagelaran seni, budaya, dan kreatifitas masyarakat Dusun Baho dan Volunteer yang sekaligus dirangkaikan dengan opening ceremony.

Kelas Impian;
Pemberian motivasi dan inspirasi oleh para inspirator yang ahli dibidangnya masing-masing.

Jelajah Pesisir;
Aksi bersih-bersih dengan doorprize (Baho-Labuan, Beropa-Baho)

Kompetisi Pesisir;
1.      Untuk Anak:
- Lomba menggambar
- Lomba mewarnai
2.      Untuk Masyarakat:
- Lomba balap sampan

Pustaka Pesisir;
-          Buku pelajaran SD-SMP, buku bacaan, dll (untuk perpustakaan sekolah).
-          ATK (untuk adik-adik Dusun Baho).
-          Seragam sekolah (untuk adik-adik Dusun Baho)

Selasa, 17 Juli 2018

ACO (Antologi bersama masa lalu)

Ucapan Terima Kasih P.H.P
Stevenson pernah berkata; “sastra bagi orang dewasa semacam permainan bagi anak-anak”.         
Terima kasih atas semua yang sudah mau mengapresiasi secara lansung dan secara tidak sengaja. Baik pada zaman penulisanku, zaman mati surinya pulpenku, dan zaman ini, zaman antologi tulisanku. Di mana akan ada kakak dari antologi ini pada tahun-tahun berikutnya (amin).
Saya lulusan SDN 10 Poasia (dulu namanya SDN 29 Poasia) tahun 2002-2008. Juga lulusan SMPN 15 Kendari tahun 2009-2011, dan pendidikan terakhirku itu adalah SMKN 2 Kendari Jurusan Teknik Pemesinan tahun 2012-2014. Kemudian, tulisan di dalam antologi ini adalah sepilihan dari apa yang saya dokumentasikan dalam bentuk tulisan, mulai dari pertengahan tahun 2014 sampai akhir tahun 2015. Kenapa namanya ACO? Karena Aco bisa bermakna panggilan atau julukan bagi seorang bocah dan dengan sadar diri kalau kumpulan tulisan ini termasuk masih “bocah” dari segi sastra, bahkan mungkin bisa dibilang masih dalam bentuk “janin”. Atas dasar itu saya menjadikannya ACO.
Banyak teman-kenalan sudah memberi inspirasi dan banyak juga mengapresiasi dalam bentuk komentar baik dan kurang baik. Orang-orang yang menginspirasi atau berpartisipasi secara lansung adalah keluarga yang sudah ajarkan saya pengalaman puitis, teman-sahabat yang selalu ada untuk saya ganggu, guru-guru dari sekolahku dulu yang mengajarkan angka-angka dan kata-kata, mamanya Yudit dan Ade yang pertama kali kenalkan saya puisinya Chairil Anwar yang berjudul Pangeran Diponegoro, tanteku Ibu Hj. Hidayah Mustafa dan keluarga besar yang bersedia kasih tempat tinggal semasa SMK yang juga memberikan pinjaman buku bacaan dan laptopnya untuk saya gunakan menonton Pembacaan Puisi, Musik Puisi dan Musikalisasi Puisi di internet, teman main-main yang walaupun lama tidak ketemu pas ketemu serasa masih teman yang seperti dulu, Om Puding (Syaifuddin gani) yang mau mengenalkan dunia sastra di Kendari secara lansung dan memimjamkan bacaan-bacaan sastra dari koleksinya di Pustaka Kabanti, teman-kenalan penyair, teman-kenalan pecinta sastra, kenalan yang selalu tertawa saat saya bilang “Ingin jadi penulis”, artis-band-penyanyi yang karyanya selalu bisa temani saya dalam hal ini adalah Om Iwan Fals, Last Child, Sheryl Shenafia, dan lainnya lagi. Serta orang-orang yang secara tidak sengaja menjadi penyemangat saya ingin jadi Seniman (penyair).
SEKIAN dan TERIMA KASIH BANYAK.
Keberanian bukan berarti tidak takut. Keberanian berarti menaklukkan ketakutan -Muhammad Athar-.



Aku dan Kenanganmu
14 Agustus 2014
Di kamar sepi kau nyanyikan cerita petualangan
Tak perlu memakai tetes keringat, hanya perlu tinta kenangan
Dengan alat tulis engkau nyanyikan cerita itu
Lalu, berharap ada hujan menyelimuti kamarmu, agar tak terdengar kenangan yang engkau nyanyikan

Bukan petualangan di kampung halaman
Sebab ada cerita dari kampung kenangan
Masa kecil menjadi ingat
Bukan lupa tentang akar dan benih

Ingatan, selalu tentang petualangan
Terus kau nyanyikan
Di kamar yang diselimuti kesangsian
Bukannya oleh hujan

Bukan kesenangan apalagi kesedihan
Cerita itu hanya tentang kenangan
Lalu kau berkata, “Tiba-tiba ada setetes ingatan yang pernah aku dengarkan!”
“Tentang apa? Tentang siapa?” Aku bertanya.
Entahlah, aku tak tahu pasti tentang itu” Jawabmu.

Kemudian, dengan alat tulis yang ilegal
Yang berasal dari petualangan kenanganmu
Kau lanjut menyanyikan cerita petualangan itu
Dan kembali berharap, hujan turun menyelimuti kamarmu.



Apologize
                                                                16 Agustus 2014
                Kukirimkan krans
            Kreasi istimewaku
            Serta buah sesalku
            Untuk kalian berdua

            Ini membuktikan aku tak lagi ingin berseteru
            Sebab yang terjadi di masa lalu
            Walau hati pernah bersetubuh
Hingga akhirnya menjadi cerita baru

            Aku tetap inginkan sesuatu itu




Teman Mimpi
17 08 2014
Banyak mau hanya jadi rencana
Banyak mimpi berakhir jadi cerita
Di sini duduk di atas meja
Sedangkan kursi tak tahu apa fungsinya

            Teman yang dibalut ragu
            Tetap ditunggu
            Kau, berkatalah sesuatu

Bangkit dari bawah
Menuju atas yang melelahkan
Kehilangan, hal jadi alasan
Hari ini banyak yang terlewatkan
dan banyak jadi pemasukan

Tujuan jadi buram
Tulang-tulang pun dikeluhkan
Apa itu makna kedewasaan?!
Ataukah umur yang masih tak diacuhkan?!



Cerita Malam
                                                04 September 2014
                Lagi-lagi bermimpi di dunia nyata
            Kemudian berteman dengan insomnia

            Aku menarikan pena
            Pena yang berasal dari kegelapan
            Entah menari tentang apa
            Hanya berniat melakukannya saja

            Lalu hal apalagi yang perlu dikata
            Dunia ini dingin pada waktunya

            Aku pejamkan mata sejenak
            Mesin air di bawah sana masih mengalir
            Nyamuk berdengin, tikus menggerogol
            Sama-sama hidup di dunia malam
            Sama-sama membuat tak nyaman

            Aku lagi-lagi bermimpi di dunia nyata



Kami Pemimpi, Bukanlah Pengibul
                                            04 September 2014
                Terik bukan kemauan
            Teras bukan tempat ilalang
            Lalu aku terbit dari balik pintu
            Pekik mereka menyambutku

Terikis jadi pijakan kami
Menghindari tatapan matahari
Lalu konklusi dari gagasan pemimpi seperti kami
Mengalir dari rongga setiap insan yang berani

“Untuk apa kita terus bersembunyi? Kita bukanlah pengibul!”

            Kemudian, sampai akhir
            Matahari terbenam di tempat seharusnya
            Kami pula terbenam
            Di pintu rumah abadi
            Sebab terik bukanlah kemauan kami



Perempuan, Di Balik Bulan Desember
                                            09 September 2014
Bulan Desember pernah bertemu
Sebelumnya sudah beberapa kali bertatap muka
Namun, malam Desember itu ia memiliki tatapan berbeda
“Cantik memang dia” Pikirmu
“Pantas saja yang lain terpesona” Melengkapi pikiranmu

Kemudian (sebut saja perempuanmu, walau bukan kepunyaanmu)
Perempuanmu bersembunyi dari mereka yang terpesona
Sembunyi di balik badanmu
Yang belum kau paham dengan pandangan dia, pandanganmu, dan pandangan mereka juga
Setelah kau paham, pandanganmu baru semakin banyak
Bahkan lebih banyak dari mereka yang terpesona
Bahkan lebih banyak dari perempuanmu sebelumnya
Perempuanmu memiliki tanda berbeda
Tahi lalat di sebelah kanan hidungnya
Perempuanmu juga memiliki makna berbeda
Awan, kabut, uap adalah makna lain dari namanya

Kini kau tergila-gila melebihi perempuanmu sebelumnya
Dan kini kau berharap sedikit-banyak melebihi Desember sebelumnya

Lalu, tiba waktunya perempuanmu bersembuyi
Dari tatapanmu yang tergila-gila
Perempuanmu bersembunyi di balik awan
Perempuanmu bersembunyi di balik kabut
Dan perempuanmu bersembunyi di balik bulan Desember



Jangan Dulu Mati
                                                            23 09 2014
            Bila ingin bersetubuh dengan masa depan
            Kau jangan dulu tidur di liang

Aku tahu, sebab aku pernah bersetubuh dengan waktu
Terenak rasanya, tapi akhirnya kau harus membersihkan
Noda perawan mimpi di bagian terluar dari pusat pagi hari
            Jadi kini manakah tujuanmu
            Menuju masa lalu atau masa depan

(hahaha)          Kau terlalu bodoh jadi insan
                        Semua itu hanyalah hiasan
                        Yang ada hanyalah hari ini
                        Bukan hari depan ataupun belakang

Sebab bila ingin bersetubuh dengan masa depan
Kau jangan dulu tidur di liang




Wanita
                            29/09/2014
                        Wanita itu adalah fiksi
Yang hidup dalam puisi
                        Wanita itu adalah maya
                        Yang hidup di dalam prosa


Puisi/Pena
                                            01 10 2014
Puisi adalah hidupku
Jangan kau pura-pura tahu tentang puisiku
Pena adalah temanku
Jangan kau patahkan pena di tanganku


Putra Kenangan
                                                01 10 2014
Hai putra kenangan, apa kau masih menjadi pemuja awan?
Hai putra kenangan, apa kau masih fanatik dengan langit bermega?
Lihat, malam ini kita berawan
Indah bukan?



Pangkalan
                                                Minggu, 05 10 2014
                Berdua kita kadang beramai
            Duduk bersama menunggu pelanggan

Di tempat duduk, tersimpan catur permainan
Serta kartu, pengisi kekosongan

Setiap daerah, sama sebutan
Tempat menunggu, dibilang pangkalan

Pangkalan, tempat semua kalangan
Punya kemauan, punya kendaraan
Bergelar pengangguran, datang ke pangkalan
Untuk menyambung kehidupan




Wajah Awan
Kendari, Satnite 18 10 2014

Lihat wajah awan, pipinya merah menawan
Lesungnya seperti pemanis buatan
Lalu cirinya ada pigmen di hidung sebelah kanan

“Awan seperti apa yang kau katakan?” Tanya teman
Tapi jawaban hanya sebuah senyuman
Serta suruhan untuk melihat wajah awan
Lihat wajah awan, pipinya merah menawan




“di zaman ini, puisi adalah hujan di musim kemarau.”



Cinta
Kendari

Tentang perasaan menggebu yang tak pernah bisa habis diceritai puisi
Tentang perasaan merona yang dirasai di antara remaja-dewasa
Lalu, kepercayaan apa yang ingin ditunggu? Masa depanmu, kubawakan hari ini

Aku bersenandung dengan puisiku, harmonis tak merdu. Mencoba menghilangkan ragu dan kembali menjadikan inspirasiku
Kemudian daripada itu, untuk membentuk sebuah karya baru. Aku mencari impian dulu, baru akan kupersunting puisiku
Dengan ketabahan, dengan kesabaran
Dengan kebencian, dengan kerinduan

Aku berlagu dengan batinku
Tentang perasaanku yang menggebu



Aku dan Waktu
                        Senin, 20 Oktober 2014
            Aku, bermanis madu
            Dengan Waktu
            Waktu yang telah amnesia
            Karena terus terjaga

            Aku, mengaku setia pada Waktu
            Karena Waktu belum ingat dengan masa lalu



Suasana
                                Jumat, 24 10 2014
                                                Suasana apa namanya
                        Ketika jalan sendiri
                        Berdua dengan bayang
            Dan,     Bertiga dengan puisi
                                    “Jomblo bukan?”
Tatapan apa namanya, ketika mereka seperti mengintrogasi dengan cara tersirat
Lalu asap menggumpal, seolah-olah mengcover awan
                        Awan seperti mengintai
                        Tiap langkah yang dirangkai
                        Mereka saja selalu diam terbingkai
                        Tak seperti kau yang telah tersemai






“…dan kehidupan orang dewasa lebih kejam
dari kehidupan kita saat kanak-kanak.”



Desember-Januari
                                    Kendari-Sultra, 2014
Ini akhir bagi hari ini. Ini akhir bagi bulan ini. Dan ini akhir bagi tahun ini. Langit menyala walau awan mendung menutupi. Kota jadi tempat pijakan seolah-olah hangat dengan kebersamaannya. Ini bukan kewajiban, namun ini adalah kebiasaan. Anak-anak bermain dengan kembang api, serta bercampur dengan tiupan terompet. Lalu para remaja lebih memilih petasan untuk meledakkan kesunyian. Kemudian yang lebih dewasa menyukai berkeliling ke sana kemari, pada diri sendiri merasa puas bagi batin. Sementara sebagian orang tua lebih memilih menjadi penonton di rumah sendiri. Bahkan ada juga orang tua hanya menitip pesan kebijakan bagi para anak yang tak bersama melewati waktu. Pada diri anak sebenarnya lebih ingin diberi tambahan jajan bukan pesan lisan.
Ingin rasanya terlarut dengan masa lalu. Masa selalu tak merasa ragu, selalu puas dengan segala kekurangan. Bahkan terkadang perbuatan lebih konyol dari masa kanak-kanak itu. Umur di dunia memang belum banyak namun bukan pula ia masih sedikit. Kini, berguru dengan para sesepuh. Sebab ingin meninggalkan remaja dengan cepat. Lalu menjadi dewasa, menjadi orang tua. Kemudian mati dan menjadi sejarah.

















Hal yang tidak masuk akal telah ada di antara kita secara berlimpah, bahkan sebelum hal itu menjadi seni.
-Adrift on The Nile,Nagub Mahfouz-



Desember
Desember,        bulan penuh cinta
                        Bulan penuh luka
Bulan penuh cerita
                                    Bulan penuh tanya
Jika kesempatan diberikan
Aku akan menyelesaikan semua di bulan Desember
Agar bulan lain tak terasingkan
Bila kau mengerti kalender
Aku merindukan Desembermu
Karena, Desember adalah bulan yang penuh duka dan bulan yang penuh suka
                                                                        2015



Pesan Tersembunyi
Apa ini adalah malam hari? Yang
Lebih banyak bercerita tentang kegelapan
Awan selalu ada, pelangi kadang muncul juga
Namun pada keduanya, sama-sama membuat keindahan
Indah, bagaikan mutiara. Lalu mutiara itu
Kadang tergambar dalam kefitrian diri
Sebenarnya, apa ini adalah malam hari?
                                                    Januari, 2015



Kesepian Penyair
Saat-saat hanya lamunan menyambut pagi
Cahaya senja sedikit redup, lalu lalang angin
Serta ayam bersuara seperti membangun suasana

Semua peliharaan lebih liar dari pemikiran
Menjadi was-was tanpa memperdulikan otak
Yang makin panas

Pemilik sarang memberi saran pada penyair amatiran
Rahasia masa depan, ini hanya tentang penyair dan kau
Bahwa sesungguhnya penyair itu adalah aku
Jadi apa bumi juga berhak tahu, tentang aku dan kau?

Ini saat hanya lamunan yang menyambut pagi
Kendari, 2015-02-03



Lalu Selanjutnya
Tentangnya, tidak benar-benar terlupakan
Yang pada masa itu
Orang pergi dan memutuskan untuk berpisah
Orang paling jahat juga tercinta

Riwayatnya, tak sungguh-sungguh dilupakan
Waktu saling mengikat hati
Dalam masa remaja kedewasaan
Masa bersama ke berpisah

Ini tentang riwayat insan masa kelam
Yang pada dunia tahu bahwa dia adalah mantan
Mantan apa? Terserah waktu
Mau menyebutnya mantan apa

Lalu selanjutnya?
                                                            Kendari, 2015-02-08



Sebuah Puisi
Sebuah lisan, tak nyata bisa menghapus air mata
Sesungguhnya syair tulisan dapat menjadi saksi dan cerita abadi
Lalu puisi untuk itukah?!
Untuk dilahirkan, dirawat, dan dikuburkan?!
                                                                    April/2015



Puisi Politik?
Tertawa
Sepersekian detik lebih alami dari asmara
                        (jatuh cinta)
Tertawa
Sedikit menutupi keluh kesah dengan Negara
                        (katanya)
Ya, Jowi jadi otak semua ini
Memilih menaiki rakyat (mungkin)
Demi bendera merah berlambang Binatang
                        Mungkin.
                                                     April 2015



Bujang :lelaki sejati:
          Lelaki sejati bukan lelaki yang menjadi raja judi
            Yang kemenangan, seolah-olah miliknya sendiri

            Lelaki sejati bukanlah lelaki banyak mengoleksi istri
            Yang pada dunia, ia merasa telah membunuh sepi

            Lelaki sejati bukan pula lelaki berotot seperti besi
            Yang sudah diprediksi apa yang terjadi bila ia berkelahi

Namun,            lelaki sejati adalah yang mampu berpuisi
                        Mampu membiayai diri sendiri
                        Orang-orang yang dicintai
Dan,     mampu menjaga lawan jenis untuk tetap suci, tak ternodai
                                                                        Jumat, 24 April 2015





Puisi Apa?
                              Puisi apa kau harap?
                                    Kita tak seumuran
                                    Entah
                                    Kau terlalu cepat tua
                                    Ataukah
                                    Aku selalu berjiwa muda

                                    Syair bagaimana kau ingin?
                                    Aku tak mendengarkan, atau
                                    Kau tak pernah sepaham?
                                                (belum)
                                                Kendari/sabtu, 25 April 2015



Panggil Om atau Tuan?!

                    Om? Mas? Daeng? Kakak?
                        Sapaan mana kau harapkan?
                        Abang? Ataukah tuan?
                        Bila masih bimbang,
                        Untuk apa diberi banyak pilihan

                        Ini bukan memilih nama pasangan
                        Ini bukan memilih nama di batu nisan
                        Ini hanya sebuah nama panggilan
                        Panggilan untuk mengakrabkan. (katanya)

                        Om, mas, daeng, kakak,
                        Sapaan mana yang kau harapkan?!
                                                            Kendari/sabtu, 25 April 2015



Katanya Sarjana

Halaman selalu saja terinjak-injak oleh ciptahan tuhan

            Terkotori dengan air seni binatang
            Mungkin saja bercampur dengan air mani hewan
            Hewan dan binatang sama sajakan?
Sama-sama ciptaan tuhan, yang tercermin di dalam batin tuan.

            Tuan tak paham? Jadi, penyair harus bilang;
                        WOW’ begitu?

            Senyuman kesedihan
            Senyuman kekecewaan
            Senyuman kebahagiaan
Dan,     senyuman-senyuman yang tak diacuhkan
            Apa tuan bisa membedakan?!
Hhh,     hewan dan binatang berbentuk lisan saja, tuan tak paham
            Bagaimana mau memahami pesan tulisan?!
           
Katanya sarjana! Masa sarjana hanya punya keluhan
            Buktikan, kalau tuan memang pantas sarjana
Atau,    “sarjana” tuan diberikan kawan tuan yang seperti binatang?
            Siapa yang tahu?!

Selain tuhan mungkin utusan tuan juga tahu
Kendari/sabtu, 25 April 2015



Puisi = Bercinta

          Peduli apa? Mereka sama pada umumnya. Perlu bukti?

            Misal;               penyair menuju kesepian
                                    Mereka juga. Mencari tempat sepi
                                    Penyair berteman dengan gelap malam
                                    Mereka juga. Mencari tempat remang-remang

            Lalu apa? Mereka sama pada umumnya. Belum percaya?
Contoh;            penyair bercumbu dengan buku melalui pena
Mereka juga. Bercumbu dengan nafsu menggebu
Penyair kadang terinspirasi oleh satu kata bermakna semesta, CINTA
Mereka juga. Kadang terinspirasi oleh bisikan sepi dan gelap untuk bercinta

Jadi, peduli apa? Perlu bukti? Lalu apa? Belum percaya? Mereka itu sama pada umumnya
                                                                        Kendari/senin, 11 Mei 2015



Apa Ini Judul Terakhir?

                    Akhir-akhir ini ada kisah tak abadi
                        Puisi bukan Ri. Apalagi Sy
                        Halaman masih seperti biasa
                        Jenuh dengan suasana terbiasa kaku
                        Teman, Man
                        Kami semua berteman
                        Puisi berteman dengan penyair
                        Penyair berteman dengan Man
                        Man berhubungan dengan Sy
                        Sy BBMan dengan Ri
                        Ri, bermalam dan tak pulang
                        Lalu, penyair bertanya pada diri sendiri
                                    “Apa ini judul terakhir?”
                        Ketika akhir-akhir ini kata tak lagi diolah
                        Sebab kata tak lagi teracuhkan
                        Penyair menjadi jemu
                        Bahkan penyair juga terbiasa kaku
                        Seperti halaman itu

                        Akhirnya hanya menjadi berdaya
                        Dengan suasana penuh tanda tanya
                                                                        Kendari, Mei 2015



April 2015

                Pu?
            Iya, kenapa Tu?
            Bisa minta bantuan Pu?
Ya, bisa. Jangankan bantuan, cacianpun akan kuberikan. Jika kau mau!”

(sambil tertawa, Tu berkata)“Bisa bantu membuat tangga?”
“Tangga? Untuk apa? Kau hendak ke mana?” Tanya Pu.
“Aku mau ke awan, ada sesuatu yang tertinggal. Entah, berwujud suka atau duka” Jawab Tu.

(sambil tertawa, Pu berkata) “Awan itu kejam. Sesuatu itu, pasti telah ia cairkan dalam hujannya” Jelas Pu.
“Atau mungkin saja telah ia hanguskan dalam petirnya
Jadi, untuk apa ke sana? Toh kau juga telah menemukan awan. Tidak ada yang lain.
Hanya awan
Awan semata wayang” Lanjutnya.



Itu Apa?

                   Tidak mudah menyelaraskan hati dan puisi
                        Tidak mudah mengeluarkan arti di dalam puisi

                        Dalam segala bentuk kesedihan,
                        Bukan hanya kau seorang pernah merasa kesepian

                        Berakhir dengan seseorang
                        Lalu menunggu kebohongan lain
                        Itu apa?
                        Bukan puisi tak bermakna?
                        Bukan sesuatu disebut percuma?
                                                            Kendari/2015-05-22




Waktu Rindu

                        Masa tak pernah berhenti melukis waktu
                        Waktu temu, waktu jemu, waktu rindu
                        Kata banyak bermekaran
                        Membuat rasa seperti wajar tak diungkapkan
                        Lalu, puisi menadah semua itu
                        Semua kata yang ada di masa
                        Dan semua rasa yang tertanam di jiwa

                                                                        Kendari, 03 Juni 2014



Selamanya Abadi adalah Usia

                        Siapa tak pernah muda?
                        Mudah dengan masa tua
                        Adalah bukti pernah muda
                        Ini tentang cinta suka
                        Bukan duka di keluh dan resah
                        Selamanya abadi adalah usia
                        Semuanya abdi adalah gila
                        Siapa tak pernah mimpi?
                        Sepi dengan hidup adalah bukti bahwa pernah sendiri
                        Ini masih tentang cinta berusaha suka
                        Bukan duka laju dengan takdirnya

                                                                        Kendari, 2015-06-07



Hujan

Hujan kau begitu polos. Dengan lembut jadi topeng
Hujan, kau begitu polos. Menjatuhkan diri, bangkit, menjatuhkan lagi
Awan indah tak bersisik, berkat hujan luruh ke bukit
Surya akhirnya tak bersembunyi. Hangat hati lalu panas membakar diri

Hari ini, hujan masih begitu polos. Dengan tujuan membasuh bumi
Membasahi saksi. Mengajari sesuatu yang abadi
Bukan energi berubah wujud sana sini
            Tanpa suara namun terdengar gemuruh
            Tanpa cita-cita namun selalu beradu dengan waktu

Akhirnya, hujan pun terpahami dan bertanya kepada hewan tumbuhan
Dan penghuni negeri,
 “Mau dikemanakankah nyawa yang kau miliki?”
Hujan, kau masih saja polos
Walau tuturmu kini menusuk hati yang peka

                                                                        Kendari/minggu, 07 Juni 2015



Bosan
                        Bisa dibilang, berjam-jam terbuang
                        Menatap kertas kosong seperti balik menatap
                        Membuat pena malu kembali menari
                        Membuat waktu berlalu tanpa inspirasi
                                                            15 Juli 2015







Waktu Berjalan
                        Waktu berbicara tentang masa lalu
                        Puisi berbicara tentang masa depan
                        Beranda memaksa mendewasakan
                        Keranda mengangkut kenangan
                                                            15 Juli 2015



22 Juli 2015
                        Masalah akan pudar dengan tawa
                        Tawa menyatukan masalah
                        Aku sang peluka, memiliki kisah di balik cedera







Maaf Sebelum Mati

                        Jodohku adalah maut
                        Rejekiku adalah maut
                        Jadi sebelum bertemu jodohku
                        Dan sebelum rejeki datang kepadaku
                        Aku ingin berlisan maaf padamu
                        Orang yang telah dinodai dosaku

                        Minal aidzin walfaizin
                        Mohon maaf di dalam khilaf

                                                            Kendari, 18 Juli 2015





Taman Kota dalam Kata

1          Tempat ibadah telah berbunyi
            Menandakan jarum jam kembali terbagi
            Pendek ke timur, panjang ke utara bumi

                        Sore ini. Renungan pecah sore hari
                        Berpuisi. Inspirasi datang sore ini

            Duduk di bangku seperti milik sendiri
            Ditemani buku kumpulan puisi Ishadi
            Baru terbeli. Tadi

2          Semut menjalankan aktifitasnya
            Mencari sari manis rasanya
            Sedangkan aku memandang-hilang manis parasnya

                                    Di bawah pohon taman kota
                                    Sang penyair merasa sepi dalam keramaian kata
                                    Maka dari itulah, karena sepi itulah
                                    Puisi hadir untuk mengabadikan taman kota
                                    Mengabadikan dalam kata

                                                            Tamkot Kendari/ senin, 20 Juli 2015











Putra Tidur

                                    Bangun. Baju semalam masih melekat
                                    Begitu pula mimpi masih lembab
                                    Kisah remaja tentang kasih dewasa
                                    Jadi tak apa jika terjamah adalah puisi
                        Kemudian diam bersuara
                        Melantangkan yang telah ia saksikan
                        Gelap pun ikut berbicara
                        Menyuarakan hak-hak di kegelapan
            Jadi, setelah Putra tidur bangun
            Cuci muka, cuci mimpi, cuci puisi
            Dan mencuci inspirasi yang telah ternodai

                                                            Kendari, 12 Juli 2015




Kendari, Kota Berkembang

1          Sedari SD hingga menyelesaikan 12 tahun pendidikan formal
            Negaraku masih saja negara berkembang
            Bukankah sekarang sudah berusia 70 tahun?
            Bukankah sekarang presiden sudah kesekian?
                        Sampai kapan?
                        Apa sampai semua penyair terkenal?
                        Atau sampai awan tak ada di bayang?

2          Kotaku saja banyak mengadopsi palsu. Pesawat palsu, tank palsu, tugu palsu,…
            Bahkan ada bernama janji palsu
                        Jadi salah siapa?
                        Salah penyair? Salah teman-teman penyair?
                        Atau salah awan hanya luruh berwujud hujan?
Sedari dulu, hingga sekarang kota dan negaraku masih saja berkembang

            Kendari/rabu, 22 Juli 2015



Ternyata Aku Tak Muda lagi

                        Ternyata aku sang penyair tak muda lagi
                        Namun jiwa muda masih sering terbit
                        Dalam perilaku dan perbuatan

                        Pagi hari, bangun mandi lalu berpuisi

                        Berpetualang dalam puisi
                        Menggugah kisah-kisah di puisi

                        Di dalam puisi, bertemu dengan kisah sedih
                        Bertatap bayang dengan kisah kasih
                        Dan di dalam puisi, berpuisi hingga tertidur kembali
                        Dan mati

                        Ternyata aku sang penyair tak muda lagi

                                                                Kendari, 23 Juli 2015



Abadi Hidup Penuh Puisi

                        Membangunkan tangga
                        Dari lelap tidurnya
                        Menapaki langkah di tiap anak tangga

                        Naik. Hingga langit, lalu menanam awan

            Menaburkan bibit-bibit hujan
            Merawat dengan acuan doa harapan
            Semoga benih ini, bisa bertahan dengan angin kedewasaan

                        Tak terkira, pena pula terjaga
                        Menjaga mimpi tiap kata
                        Menjaga cita tiap bocah

Pernah sekali tangga tumbang, pena tenggelam. Terulang-ulang
Namun ketika terbiasa, mereka pun abadi dalam hidup penuh puisi

Kendari/jumat, 24 Juli 2015



Rasa yang Tak Harus Ada

Membaca puisi di dalam kegelapan
Begitulah gambaran cinta di dalam angan
Berusaha menyimpan rasa tertahan
Tanpa cahaya tanpa arah
Tak pernah bisa tahu, apa kata apa makna

Menulis puisi di dalam kegelapan
Begitu pula cinta pernah ingin diungkapkan
Berusaha menyimpan rasa yang tak teraba
Tanpa cahaya tanpa arah,
Pena tak pernah bisa tahu, tulis apa cerita apa

Berpuisi di dalam kegelapan
Dan ketahuilah, cinta berusaha tak diperdengarkan
Jadi berusaha menyimpan rasa
Benar-benar tak harus ada

Kendari/jumat, 24 Juli 2015



Ada Jalan Setapak

                        Lahir, di beranda ada jalan setapak
                        Tumbuh, di jalur pulang-pergi ada jalan setapak
                        Bahkan berpuisi di pandangan ada jalan setapak

                        Kisah sejarah, terkenang dengan sendirinya
                        Pena merasa peka. Akhirnya mempuisikannya

            Kemudian berubah. Perubahan terjadi setelah demokrasi
            Di Kendari. Kota bernama Bumi Anoa
                        (julukannya mulai punah)

            Mengacu pada tragedi. Semakin ke sini kota semakin bersih
            Bersih dari awan, bersih dari tentram
            Bersih dari seniman dan bersih dari kebersihan

            Lahir dan berpuisi, di beranda ada jalan setapak

                                                            Kendari/selasa, 28 Juli 2015



Sensi Mendengar Kata ‘Awan’

Setiap mendengar kata ‘awan’
Selalu ingin mempayungi diri dan hati. Untuk bersembunyi
Sebab awan melayang di atas kepala menyembunyikan sesuatu yang senang dan sedang mengendap

Pasti, yakin. Yakin pada rasa itu

Sebab-akibat, was-was dengan sesuatu di balik awan
Entah itu mentari, pelangi, atau puisi-puisi lama, tua dan merasa tak berguna
Atau mungkin duka berwujud hujan, suka berwujud awan hitam
Atau sebuah cinta sedari dulu mengendap di balik awan

Belum dipastikan
Namun percaya diri dan percaya puisi
Maka dari itu, setiap mendengar kata ‘awan’
Selalu ingin mempayungi diri dan hati. Untuk bersembunyi
Di dalam puisi

Kendari, 04 Agustus 2015



Cerita Hari Ini

Sebelum tidur cuci kaki, sikat gigi, berpuisi, dan berharap berjumpa di dalam mimpi
Bangun pagi. Mandi, berpuisi, dan kembali membayangkan di dalam mimpi nyata ini

Sang penyuka tak memiliki harta berharga. Mengerti saja jika mengaku suka lalu menjauh. Tak ada apa-apa. Karena sebenarnya hanya kumpulan kata, dirakit menjadi bait dan puisi. Kemudian, lagi-lagi (seperti cerita lama) saling cinta dan saling punya rasa yang sama. Tapi tak pernah saling memiliki dan tak pernah memiliki hubungan yang nyata.

Kendari/kamis, 06-08-2015



Tertawa dan Bersuara

Tertawa bahagia. Tertawa suka. Tertawa duka? Adakah?
            Bukankah umur sudah cukup menjadi bijaksana?
            Atau kenakalan remaja belum cukup berbanyak salah?
                        Di sini, kursi taman kota
                        Tempat lahirnya kumpulah kata (puisi namanya)
                        Bertemu kawan lama, Reza
                        Sedangkan di sana, di kursi-bangku lainnya
            Ada yang berisi pemuda
            Ada pula sedikit kenangan bersama wanita
            Kemudian pandangan berubah arah
            Pemikiran gila menjadi dewasa
                        Terus berusaha berkata
                        Sementara sepi dan sendiri juga terus bersuara

                                                                        Kendari, 19 08 2015



Luka dalam Cinta

Jangan salah paham. (mungkin) tak lagi meleburkan cinta dalam kata
Sebab kata dan cinta, sama-sama membuat luka

Ya, walaupun bila menyatu mereka akan sempurna
Tapi kesempurnaan dalam luka apa tak sia-sia?
Apa hati tak akan berdarah?
Jadi, cinta ya cinta! Luka ya luka!
Sedangkan luka adalah perwujudan dari leburnya cinta dalam bentuk kata

Seperti sedang dirasa seorang penyait bernama Putra
            (ketika melahirkan Luka dalam Cinta)
Berkata mencinta tapi didapat luka
Luka dalam rasa
Luka dalam peka
Luka dalam tatapan mata
Dan tentu saja, luka dalam cinta

                                                Kendari/minggu, 23 08 2015



Turun ke Hati Menjadi Luka

                        Seseorang telah katakan cinta
                        Di depan mata berdiri (mesra) bersama seorang pula
                        Kemudian tertawa karenanya
                        Tersenyum kepadaku
                        Jadi bisa apa? Membalas senyum?
                        Sebenarnya … -pahamilah bagaimana hati terasa-
                        Atau harus ikut larut dalam semua tawa itu?
                        Bukankah itu namanya ketidakjujuran?
                        Semakin tertawa semakin luka
                        Semakin lama bertatap mata juga semakin luka
                        Akhirnya, cinta ini membuat sadar
                        Bahwa jatuh cinta itu berawal dari tatapan mata
                        Dan dari mata, turun ke hati
                        Menjadi luka

                                                                        Kota Kendari
                                                                        Senin, 24 08 2015





Hantu Mayang

                        Di imaji, ada hantu gentayangan. Hantu Mayang
                        Dia, lalu lalang dengan senyuman
                        Terbang seolah-olah menebar harapan
            Seseorang berkata adalah kebodohan
            Puisi adalah kebohongan
Sementara hantu gentayangan adalah kisah di dalam kenangan
Punya cinta tapi tak bisa beri jaminan untuk tetap beradu dengan harapan
Karena di imaji, ada hantu gentayangan. Hantu Mayang

                                                                        Kendari/senin, 24 08 2015






Kembali Nostalgia

                        Kembali beradu dalam dimensi nostalgia
                        Berada dalam enam sisi mati, kamar mati suri

                        Kemudian kegelapan menjadi teman hati
                        Cahaya luar mengintip dari sela-sela pintu terkunci

Sementara, terjadi sebenar-benarnya kebenaran adalah membayangkan pencuri yang pernah ditemui
Ia telah curi sesuatu, bisa dibilang inspirasi
Ini membuat pena tak tentram setiap hari
Seolah ingin bersiteru dengan buku dan mimpi

Melahirkan puisi
-entah, akan jadi korban atau hal lainnya lagi-

Kendari/Agustus 2015



Proklamasi Cinta

                        Hai cinta yang mengakibatkan luka
                        Kau telah melahirkan luka di hati yang peka
                        Hai hantu yang selalu bersandiwara
                        Kau telah menakuti jiwa di dunia suka

            Aku akan menyembunyikan di dalam peti-peti sastra
            Akan mengubur di dalam suka duka sastra

                        Kemudian, di hari kemerdekaan
                        Cinta dan jiwa berbicara
                        Didengar ribuan pena, ratusan pembaca:
                                                Proklamasi Cinta
Aku, penyair Indonesia menyatakan dengan ini masih mencinta. Hal-hal mengenai kisah suka dan duka diselenggarakan dengan rasa setia dan dalam tempo selama-lamanya.
                                                            Kendari, Agustus 2015
                                                            Atas nama Penyair Indonesia

                                                            Putra-Cinta




Kuberi Puisi

                        Aku (mungkin) pergi sebelum waktunya kumati
                        Kau (pasti) mencintai setelah aku pergi mati
                        Jadi, mau kamu apa? Mau puisi atau mau hati?
                        Sebenarnya hatiku adalah puisi yang pernah kuberi

                                                                        Kendari, 15 September 2015



Masa Kegelapan

Terjebak. Mencoba tuk tak mati. Kemudian jatuh hati lagi
Kehilangan hal jadi alasan, kebersamaan menjadi tak tergantikan
Bukan tujuan, bukan akhiran. Hanya sesuatu hilang dan dirindukan
            Tersesat. Kebenaran yang hitam, gelap dan lenyap
            Merangkak, tengkurap. Kemudian meniru tanda kutip
Hilang tak dicari. Sebab sesuatu yang hilang itu, sebenarnya bukan hilang.
            Namun lebih dewasa dan pergi
            Meninggalkan jebakan. Menyisahkan kegelapan
            Hilang arah? Ya, arah juga hilang
            Tak kasat oleh cita, cinta dan rasa

                        Akhirnya dapat merasakan seninya terjebak,
                        Tersesat, hilang arah, dan semua yang ada di gelap.

                                                            Kendari/November 2015                                                                                          



Bersama Mereka Ada Tawa, Bersama Mereka Ada Cerita

Kisah mulai terterah. Di antara rasa ingin selalu suka.
Malam seperti biasa. Menjadi istimewa bersama mereka.
Atap menampung para pria. Bersama di waktu masih berjiwa.
Aku lupa akan cita-cita, bahkan sempat lengah menarikan pena.
Kembali nyata, kembali merasa di dunia.
Namun lihat setelah lewat musim mangga,
Apa iya, bersama mereka masih ada rasa suka?
Jika iya, aku akan mengabadikan mereka dalam beribu kata yang kurangkum dalam satu jiwa dan luka

Bersama mereka ada tawa, bersama mereka ada cerita

                                                            Kendari/November 2015
#LorongMacan



Kisah Perjaka

Setelah usai bersepeda, sepeda seperti tak beroda
Perjaka menghempaskan lelahnya
Memaki kesendirianya
Disaksikan teh Jasmine pesanannya

Sendiri? Ya, Perjaka merasa sendiri
Walau berada dalam keramaian kata,
Wanita, dan mimpi-mimpi karya

Tak berongga, cita-cita seperti bolong. Tak berongga

Perjaka menyadari sesuatu dari kesendirian menyelimuti
Bahwa sepi sebenarnya adalah inspirasi

Jadi, perjaka mengambil pena, sepeda
Kertas, roda, dan buku
Kemudian, dikayuh semua
Menjadi sesuatu yang abadi

                                                                        Kendari/2015



Pesan Pagi Hari

            Pagi cerah untuk membuat nyata mimpi tadi malam
            Bersama rasa yang ada di hati,
            Dan tak peduli jika naïf dengan keinginan sehidup semati
                        Tentang sebuah masa yang akan datang
                        Tentang caranya menerima bukan melupakan
                        Begitu pula keabadian cinta,
                        Akan terus bersuara
            “Selamat pagi! Selamat membaca puisi.”

                                                                        Kendari, 26-11-2015








Tak Tahu Diri, Tak Tahu Hati

Terlalu dini untuk jatuh hati
Waktu tertatih datang sebentar lagi
Sangsi? Ada di jalan yang akan dilalui

Kemudian, setelah awan luruh bersama rindu
Apa langit akan cerah seperti mimpi indah?
Jika cinta bisa salah, ini adalah waktunya

Jumat pagi dalam Kota Kendari
27/11/2015






Air Mata Luruh bersama Hujan

Tidak terlalu pagi untuk berpuisi
Tidak terlalu dini untuk mengganti yang di hati

Hujan malam tadi, menghanyutkan rasa yang (ingin) abadi
Juga meluluhkan semua debu berbentuk air mata
Membuat luka kembali basah

Tak seperti hati, kaki memilih jalan tanpa henti
Berjalan meninggalkan penyebab luka hati
Mencari sesuatu baru yang juga bisa saja membuat luka lagi

Kendari, 13 Desember 2015










Puisi di dalam Puisi

Pernah berangan tuk pergi menjauh
Namun baru langkah keseribu, sudah merindu
Dan setelah rindu, bangun dari tidur

Suatu hari, ada seseorang bernama Lugu berwajah kaku
Bersahabat dengan Lagu dan Buku
Suatu ketika ia telah dewasa, Ia berubah nama menjadi Semu
Kini ia berteman dengan Rindu
Dan ucapnya selalu tak tahu
“Siapa namamu?, tak tahu
siapa kau rindu?, tak tahu
siapa terbunuh?, tak tahu
jadi, apa yang kau tahu?, tak tahu”

Kemudian, hari keseribu satu
Ia menemukan secarik kertas kaku
Di dalamnya ada puisi berjudul lugu
Sedang beradu dengan waktu

Lugu
Dulu namaku Lugu. Sekarang namaku Semu
Dulu sahabatku Buku. Sekarang temanku Rindu
Aku rindu masa laluku dan akan kubunuh masa sekarangku
Jadi, aku tahu diriku adalah seorang pembunuh waktu

Kendari, Desember 2015