Ucapan
Terima Kasih P.H.P
Stevenson pernah berkata; “sastra bagi
orang dewasa semacam permainan bagi anak-anak”.
Terima
kasih atas semua yang sudah mau mengapresiasi secara lansung dan secara tidak
sengaja. Baik pada zaman penulisanku, zaman mati surinya pulpenku, dan zaman
ini, zaman antologi tulisanku. Di mana akan ada kakak dari antologi ini pada
tahun-tahun berikutnya (amin).
Saya
lulusan SDN 10 Poasia (dulu namanya SDN 29 Poasia) tahun 2002-2008. Juga
lulusan SMPN 15 Kendari tahun 2009-2011, dan pendidikan terakhirku itu adalah
SMKN 2 Kendari Jurusan Teknik Pemesinan tahun 2012-2014. Kemudian, tulisan di
dalam antologi ini adalah sepilihan dari apa yang saya dokumentasikan dalam
bentuk tulisan, mulai dari pertengahan tahun 2014 sampai akhir tahun 2015.
Kenapa namanya ACO? Karena Aco bisa bermakna panggilan atau julukan bagi
seorang bocah dan dengan sadar diri kalau kumpulan tulisan ini termasuk masih
“bocah” dari segi sastra, bahkan mungkin bisa dibilang masih dalam bentuk
“janin”. Atas dasar itu saya menjadikannya ACO.
Banyak
teman-kenalan sudah memberi inspirasi dan banyak juga mengapresiasi dalam
bentuk komentar baik dan kurang baik. Orang-orang yang menginspirasi atau
berpartisipasi secara lansung adalah keluarga yang sudah ajarkan saya
pengalaman puitis, teman-sahabat yang selalu ada untuk saya ganggu, guru-guru
dari sekolahku dulu yang mengajarkan angka-angka dan kata-kata, mamanya Yudit
dan Ade yang pertama kali kenalkan saya puisinya Chairil Anwar yang berjudul
Pangeran Diponegoro, tanteku Ibu Hj. Hidayah Mustafa dan keluarga besar yang
bersedia kasih tempat tinggal semasa SMK yang juga memberikan pinjaman buku
bacaan dan laptopnya untuk saya gunakan menonton Pembacaan Puisi, Musik Puisi
dan Musikalisasi Puisi di internet, teman main-main yang walaupun lama tidak
ketemu pas ketemu serasa masih teman yang seperti dulu, Om Puding (Syaifuddin
gani) yang mau mengenalkan dunia sastra di Kendari secara lansung dan
memimjamkan bacaan-bacaan sastra dari koleksinya di Pustaka Kabanti,
teman-kenalan penyair, teman-kenalan pecinta sastra, kenalan yang selalu
tertawa saat saya bilang “Ingin jadi
penulis”, artis-band-penyanyi yang karyanya selalu bisa temani saya dalam
hal ini adalah Om Iwan Fals, Last Child, Sheryl Shenafia, dan lainnya lagi.
Serta orang-orang yang secara tidak sengaja menjadi penyemangat saya ingin jadi
Seniman (penyair).
SEKIAN
dan TERIMA KASIH BANYAK.
“Keberanian
bukan berarti tidak takut. Keberanian berarti menaklukkan ketakutan” -Muhammad Athar-.
Aku dan Kenanganmu
14 Agustus 2014
Di kamar sepi
kau nyanyikan cerita petualangan
Tak perlu
memakai tetes keringat, hanya perlu tinta kenangan
Dengan alat
tulis engkau nyanyikan cerita itu
Lalu, berharap
ada hujan menyelimuti kamarmu, agar tak terdengar kenangan yang engkau
nyanyikan
Bukan petualangan
di kampung halaman
Sebab ada
cerita dari kampung kenangan
Masa kecil
menjadi ingat
Bukan lupa
tentang akar dan benih
Ingatan,
selalu tentang petualangan
Terus kau
nyanyikan
Di kamar yang
diselimuti kesangsian
Bukannya oleh
hujan
Bukan kesenangan
apalagi kesedihan
Cerita itu
hanya tentang kenangan
Lalu kau
berkata, “Tiba-tiba ada setetes ingatan
yang pernah aku dengarkan!”
“Tentang apa? Tentang siapa?” Aku bertanya.
“Entahlah, aku tak tahu pasti tentang itu” Jawabmu.
Kemudian,
dengan alat tulis yang ilegal
Yang berasal
dari petualangan kenanganmu
Kau lanjut
menyanyikan cerita petualangan itu
Dan kembali
berharap, hujan turun menyelimuti kamarmu.
Apologize
16
Agustus 2014
Kukirimkan krans
Kreasi istimewaku
Serta buah sesalku
Untuk kalian berdua
Ini membuktikan aku tak lagi ingin
berseteru
Sebab yang terjadi di masa lalu
Walau hati pernah bersetubuh
Hingga akhirnya menjadi cerita baru
Aku tetap inginkan sesuatu itu
Teman Mimpi
17 08 2014
Banyak mau
hanya jadi rencana
Banyak mimpi
berakhir jadi cerita
Di sini duduk
di atas meja
Sedangkan
kursi tak tahu apa fungsinya
Teman yang dibalut ragu
Tetap ditunggu
Kau, berkatalah sesuatu
Bangkit dari bawah
Menuju atas yang melelahkan
Kehilangan, hal jadi alasan
Hari ini banyak yang terlewatkan
dan banyak jadi pemasukan
Tujuan jadi
buram
Tulang-tulang
pun dikeluhkan
Apa itu makna
kedewasaan?!
Ataukah umur
yang masih tak diacuhkan?!
Cerita Malam
04
September 2014
Lagi-lagi bermimpi di dunia nyata
Kemudian berteman dengan insomnia
Aku menarikan pena
Pena yang berasal dari kegelapan
Entah menari tentang apa
Hanya berniat melakukannya saja
Lalu hal apalagi yang perlu dikata
Dunia ini dingin pada waktunya
Aku pejamkan mata sejenak
Mesin air di bawah sana masih
mengalir
Nyamuk berdengin, tikus menggerogol
Sama-sama hidup di dunia malam
Sama-sama membuat tak nyaman
Aku lagi-lagi bermimpi di dunia
nyata
Kami Pemimpi, Bukanlah
Pengibul
04
September 2014
Terik bukan kemauan
Teras bukan tempat ilalang
Lalu aku terbit dari balik pintu
Pekik mereka menyambutku
Terikis jadi
pijakan kami
Menghindari
tatapan matahari
Lalu konklusi
dari gagasan pemimpi seperti kami
Mengalir dari
rongga setiap insan yang berani
“Untuk apa kita terus bersembunyi? Kita bukanlah
pengibul!”
Kemudian, sampai akhir
Matahari terbenam di tempat
seharusnya
Kami pula terbenam
Di pintu rumah abadi
Sebab terik bukanlah kemauan kami
Perempuan, Di Balik Bulan
Desember
09
September 2014
Bulan Desember
pernah bertemu
Sebelumnya sudah
beberapa kali bertatap muka
Namun, malam Desember itu ia
memiliki tatapan berbeda
“Cantik memang dia” Pikirmu
“Pantas saja yang lain terpesona” Melengkapi pikiranmu
Kemudian
(sebut saja perempuanmu, walau bukan kepunyaanmu)
Perempuanmu
bersembunyi dari mereka yang terpesona
Sembunyi di
balik badanmu
Yang belum kau
paham dengan pandangan dia, pandanganmu, dan pandangan mereka juga
Setelah kau paham, pandanganmu baru semakin banyak
Bahkan lebih banyak dari mereka yang terpesona
Bahkan lebih banyak dari perempuanmu sebelumnya
Perempuanmu
memiliki tanda berbeda
Tahi lalat di
sebelah kanan hidungnya
Perempuanmu
juga memiliki makna berbeda
Awan, kabut,
uap adalah makna lain dari namanya
Kini kau
tergila-gila melebihi perempuanmu sebelumnya
Dan kini kau
berharap sedikit-banyak melebihi Desember sebelumnya
Lalu, tiba
waktunya perempuanmu bersembuyi
Dari tatapanmu
yang tergila-gila
Perempuanmu bersembunyi di balik awan
Perempuanmu bersembunyi di balik kabut
Dan perempuanmu bersembunyi di balik bulan Desember
Jangan Dulu Mati
23
09 2014
Bila ingin bersetubuh dengan masa
depan
Kau jangan dulu tidur di liang
Aku tahu,
sebab aku pernah bersetubuh dengan waktu
Terenak
rasanya, tapi akhirnya kau harus membersihkan
Noda perawan
mimpi di bagian terluar dari pusat pagi hari
Jadi kini manakah tujuanmu
Menuju masa lalu atau masa depan
(hahaha) Kau
terlalu bodoh jadi insan
Semua itu hanyalah
hiasan
Yang ada hanyalah hari
ini
Bukan hari depan ataupun
belakang
Sebab bila
ingin bersetubuh dengan masa depan
Kau jangan
dulu tidur di liang
Wanita
29/09/2014
Wanita itu adalah fiksi
Yang hidup dalam puisi
Wanita itu adalah maya
Yang hidup di dalam
prosa
Puisi/Pena
01
10 2014
Puisi adalah hidupku
Jangan kau pura-pura tahu
tentang puisiku
Pena adalah temanku
Jangan kau patahkan pena di
tanganku
Putra Kenangan
01
10 2014
Hai putra
kenangan, apa kau masih menjadi pemuja awan?
Hai putra
kenangan, apa kau masih fanatik dengan langit bermega?
Lihat, malam
ini kita berawan
Indah bukan?
Pangkalan
Minggu,
05 10 2014
Berdua kita kadang beramai
Duduk bersama menunggu pelanggan
Di tempat
duduk, tersimpan catur permainan
Serta kartu,
pengisi kekosongan
Setiap daerah, sama sebutan
Tempat menunggu, dibilang pangkalan
Pangkalan,
tempat semua kalangan
Punya kemauan,
punya kendaraan
Bergelar
pengangguran, datang ke pangkalan
Untuk
menyambung kehidupan
Wajah Awan
Kendari, Satnite 18 10 2014
Lihat wajah
awan, pipinya merah menawan
Lesungnya
seperti pemanis buatan
Lalu cirinya
ada pigmen di hidung sebelah kanan
“Awan seperti apa yang kau katakan?” Tanya teman
Tapi jawaban
hanya sebuah senyuman
Serta suruhan
untuk melihat wajah awan
Lihat wajah
awan, pipinya merah menawan
“di zaman ini,
puisi adalah hujan di musim kemarau.”
Cinta
Kendari
Tentang
perasaan menggebu yang tak pernah bisa habis diceritai puisi
Tentang
perasaan merona yang dirasai di antara remaja-dewasa
Lalu,
kepercayaan apa yang ingin ditunggu? Masa depanmu, kubawakan hari ini
Aku
bersenandung dengan puisiku, harmonis tak merdu. Mencoba menghilangkan ragu dan
kembali menjadikan inspirasiku
Kemudian
daripada itu, untuk membentuk sebuah karya baru. Aku mencari impian dulu, baru
akan kupersunting puisiku
Dengan
ketabahan, dengan kesabaran
Dengan
kebencian, dengan kerinduan
Aku berlagu
dengan batinku
Tentang
perasaanku yang menggebu
Aku dan Waktu
Senin, 20 Oktober 2014
Aku, bermanis madu
Dengan Waktu
Waktu yang telah amnesia
Karena terus terjaga
Aku, mengaku setia pada Waktu
Karena Waktu belum ingat dengan masa
lalu
Suasana
Jumat,
24 10 2014
Suasana apa namanya
Ketika jalan sendiri
Berdua dengan bayang
Dan, Bertiga
dengan puisi
“Jomblo bukan?”
Tatapan apa
namanya, ketika mereka seperti mengintrogasi dengan cara tersirat
Lalu asap
menggumpal, seolah-olah mengcover
awan
Awan seperti mengintai
Tiap langkah yang
dirangkai
Mereka saja selalu diam
terbingkai
Tak seperti kau yang
telah tersemai
“…dan kehidupan orang dewasa
lebih kejam
dari kehidupan kita saat
kanak-kanak.”
Desember-Januari
Kendari-Sultra, 2014
Ini akhir bagi
hari ini. Ini akhir bagi bulan ini. Dan ini akhir bagi tahun ini. Langit
menyala walau awan mendung menutupi. Kota jadi tempat pijakan seolah-olah
hangat dengan kebersamaannya. Ini bukan kewajiban, namun ini adalah kebiasaan.
Anak-anak bermain dengan kembang api, serta bercampur dengan tiupan terompet.
Lalu para remaja lebih memilih petasan untuk meledakkan kesunyian. Kemudian
yang lebih dewasa menyukai berkeliling ke sana kemari, pada diri sendiri merasa
puas bagi batin. Sementara sebagian orang tua lebih memilih menjadi penonton di
rumah sendiri. Bahkan ada juga orang tua hanya menitip pesan kebijakan bagi
para anak yang tak bersama melewati waktu. Pada diri anak sebenarnya lebih
ingin diberi tambahan jajan bukan pesan lisan.
Ingin rasanya terlarut
dengan masa lalu. Masa selalu tak merasa ragu, selalu puas dengan segala
kekurangan. Bahkan terkadang perbuatan lebih konyol dari masa kanak-kanak itu.
Umur di dunia memang belum banyak namun bukan pula ia masih sedikit. Kini,
berguru dengan para sesepuh. Sebab ingin meninggalkan remaja dengan cepat. Lalu
menjadi dewasa, menjadi orang tua. Kemudian mati dan menjadi sejarah.
Hal yang tidak masuk akal telah
ada di antara kita secara berlimpah, bahkan sebelum hal itu menjadi seni.
-Adrift
on The Nile,Nagub Mahfouz-
Desember
Desember, bulan penuh cinta
Bulan
penuh luka
Bulan
penuh cerita
Bulan
penuh tanya
Jika kesempatan diberikan
Aku akan menyelesaikan semua di
bulan Desember
Agar bulan lain tak terasingkan
Bila kau mengerti kalender
Aku merindukan
Desembermu
Karena,
Desember adalah bulan yang penuh duka dan bulan yang penuh suka
2015
Pesan
Tersembunyi
Apa ini adalah malam hari? Yang
Lebih banyak bercerita tentang
kegelapan
Awan selalu ada, pelangi kadang
muncul juga
Namun pada keduanya, sama-sama
membuat keindahan
Indah, bagaikan mutiara. Lalu mutiara itu
Kadang tergambar dalam kefitrian diri
Sebenarnya, apa ini adalah malam
hari?
Januari, 2015
Kesepian
Penyair
Saat-saat hanya lamunan menyambut
pagi
Cahaya senja sedikit redup, lalu
lalang angin
Serta ayam bersuara seperti
membangun suasana
Semua peliharaan lebih liar dari
pemikiran
Menjadi was-was tanpa
memperdulikan otak
Yang makin panas
Pemilik sarang memberi saran pada
penyair amatiran
Rahasia masa depan, ini hanya
tentang penyair dan kau
Bahwa sesungguhnya penyair itu
adalah aku
Jadi apa bumi juga berhak tahu,
tentang aku dan kau?
Ini saat hanya lamunan yang
menyambut pagi
Kendari,
2015-02-03
Lalu
Selanjutnya
Tentangnya, tidak benar-benar
terlupakan
Yang pada masa itu
Orang pergi dan memutuskan untuk
berpisah
Orang paling jahat juga tercinta
Riwayatnya, tak sungguh-sungguh
dilupakan
Waktu saling mengikat hati
Dalam masa remaja kedewasaan
Masa bersama ke berpisah
Ini tentang riwayat insan masa
kelam
Yang pada dunia tahu bahwa dia adalah
mantan
Mantan apa? Terserah waktu
Mau menyebutnya mantan apa
Lalu selanjutnya?
Kendari,
2015-02-08
Sebuah Puisi
Sebuah lisan, tak nyata bisa menghapus air mata
Sesungguhnya syair tulisan dapat menjadi saksi dan
cerita abadi
Lalu puisi untuk itukah?!
Untuk dilahirkan, dirawat, dan
dikuburkan?!
April/2015
Puisi
Politik?
Tertawa
Sepersekian detik lebih alami
dari asmara
(jatuh cinta)
Tertawa
Sedikit menutupi keluh kesah
dengan Negara
(katanya)
Ya, Jowi jadi otak semua ini
Memilih menaiki rakyat (mungkin)
Demi bendera merah berlambang Binatang
Mungkin.
April
2015
Bujang
:lelaki sejati:
Lelaki
sejati bukan lelaki yang menjadi raja judi
Yang
kemenangan, seolah-olah miliknya sendiri
Lelaki
sejati bukanlah lelaki banyak mengoleksi istri
Yang
pada dunia, ia merasa telah membunuh sepi
Lelaki
sejati bukan pula lelaki berotot seperti besi
Yang
sudah diprediksi apa yang terjadi bila ia berkelahi
Namun, lelaki
sejati adalah yang mampu berpuisi
Mampu membiayai diri sendiri
Orang-orang
yang dicintai
Dan, mampu
menjaga lawan jenis untuk tetap suci, tak ternodai
Jumat,
24 April 2015
Puisi
Apa?
Puisi
apa kau harap?
Kita
tak seumuran
Entah
Kau
terlalu cepat tua
Ataukah
Aku
selalu berjiwa muda
Syair bagaimana kau
ingin?
Aku tak mendengarkan,
atau
Kau tak pernah sepaham?
(belum)
Kendari/sabtu,
25 April 2015
Panggil
Om atau Tuan?!
Om?
Mas? Daeng? Kakak?
Sapaan mana kau harapkan?
Abang? Ataukah tuan?
Bila masih bimbang,
Untuk apa diberi banyak pilihan
Ini bukan memilih nama pasangan
Ini bukan memilih nama di batu nisan
Ini hanya sebuah nama panggilan
Panggilan untuk mengakrabkan.
(katanya)
Om, mas, daeng, kakak,
Sapaan mana yang kau harapkan?!
Kendari/sabtu,
25 April 2015
Katanya
Sarjana
Halaman selalu saja
terinjak-injak oleh ciptahan tuhan
Terkotori
dengan air seni binatang
Mungkin
saja bercampur dengan air mani hewan
Hewan
dan binatang sama sajakan?
Sama-sama
ciptaan tuhan, yang tercermin di dalam batin tuan.
Tuan
tak paham? Jadi, penyair harus bilang;
‘WOW’
begitu?
Senyuman
kesedihan
Senyuman
kekecewaan
Senyuman
kebahagiaan
Dan, senyuman-senyuman
yang tak diacuhkan
Apa
tuan bisa membedakan?!
Hhh, hewan
dan binatang berbentuk lisan saja, tuan tak paham
Bagaimana
mau memahami pesan tulisan?!
Katanya sarjana! Masa sarjana
hanya punya keluhan
Buktikan,
kalau tuan memang pantas sarjana
Atau, “sarjana”
tuan diberikan kawan tuan yang seperti binatang?
Siapa
yang tahu?!
Selain tuhan mungkin utusan tuan juga
tahu
Kendari/sabtu,
25 April 2015
Puisi
= Bercinta
Peduli
apa? Mereka sama pada umumnya. Perlu bukti?
Misal; penyair
menuju kesepian
Mereka
juga. Mencari tempat sepi
Penyair
berteman dengan gelap malam
Mereka
juga. Mencari tempat remang-remang
Lalu
apa? Mereka sama pada umumnya. Belum percaya?
Contoh; penyair bercumbu dengan buku melalui pena
Mereka
juga. Bercumbu dengan nafsu menggebu
Penyair
kadang terinspirasi oleh satu kata bermakna semesta, CINTA
Mereka
juga. Kadang terinspirasi oleh bisikan sepi dan gelap untuk bercinta
Jadi, peduli apa? Perlu bukti? Lalu apa? Belum
percaya? Mereka itu sama pada umumnya
Kendari/senin,
11 Mei 2015
Apa
Ini Judul Terakhir?
Akhir-akhir
ini ada kisah tak abadi
Puisi bukan Ri. Apalagi Sy
Halaman masih seperti biasa
Jenuh dengan suasana terbiasa kaku
Teman, Man
Kami semua berteman
Puisi berteman dengan penyair
Penyair berteman dengan Man
Man berhubungan dengan Sy
Sy BBMan dengan Ri
Ri, bermalam dan tak pulang
Lalu, penyair bertanya pada diri
sendiri
“Apa ini judul terakhir?”
Ketika akhir-akhir ini kata tak lagi
diolah
Sebab kata tak lagi teracuhkan
Penyair menjadi jemu
Bahkan penyair juga terbiasa kaku
Seperti halaman itu
Akhirnya hanya menjadi berdaya
Dengan suasana penuh tanda tanya
Kendari,
Mei 2015
April
2015
“Pu?
Iya, kenapa Tu?
Bisa minta bantuan Pu?
Ya, bisa. Jangankan bantuan,
cacianpun akan kuberikan. Jika kau mau!”
(sambil tertawa, Tu berkata)“Bisa bantu membuat tangga?”
“Tangga? Untuk
apa? Kau hendak ke mana?” Tanya Pu.
“Aku mau ke
awan, ada sesuatu yang tertinggal. Entah, berwujud suka atau duka”
Jawab Tu.
(sambil tertawa, Pu berkata) “Awan itu kejam. Sesuatu itu, pasti telah ia cairkan dalam hujannya” Jelas
Pu.
“Atau mungkin
saja telah ia hanguskan dalam petirnya
Jadi, untuk
apa ke sana? Toh kau juga telah menemukan awan. Tidak ada yang lain.
Hanya awan
Awan semata
wayang” Lanjutnya.
Itu
Apa?
Tidak
mudah menyelaraskan hati dan puisi
Tidak
mudah mengeluarkan arti di dalam puisi
Dalam
segala bentuk kesedihan,
Bukan
hanya kau seorang pernah merasa kesepian
Berakhir
dengan seseorang
Lalu menunggu kebohongan lain
Itu apa?
Bukan puisi tak bermakna?
Bukan sesuatu disebut percuma?
Kendari/2015-05-22
Waktu
Rindu
Masa
tak pernah berhenti melukis waktu
Waktu temu, waktu jemu, waktu rindu
Kata
banyak bermekaran
Membuat
rasa seperti wajar tak diungkapkan
Lalu,
puisi menadah semua itu
Semua
kata yang ada di masa
Dan
semua rasa yang tertanam di jiwa
Kendari,
03 Juni 2014
Selamanya
Abadi adalah Usia
Siapa
tak pernah muda?
Mudah
dengan masa tua
Adalah
bukti pernah muda
Ini
tentang cinta suka
Bukan
duka di keluh dan resah
Selamanya
abadi adalah usia
Semuanya
abdi adalah gila
Siapa
tak pernah mimpi?
Sepi
dengan hidup adalah bukti bahwa pernah sendiri
Ini
masih tentang cinta berusaha suka
Bukan
duka laju dengan takdirnya
Kendari,
2015-06-07
Hujan
Hujan kau begitu polos. Dengan lembut jadi topeng
Hujan, kau begitu polos. Menjatuhkan diri, bangkit,
menjatuhkan lagi
Awan indah tak bersisik, berkat hujan luruh ke bukit
Surya akhirnya tak bersembunyi. Hangat hati lalu
panas membakar diri
Hari ini, hujan masih begitu polos. Dengan tujuan
membasuh bumi
Membasahi saksi. Mengajari sesuatu yang abadi
Bukan energi berubah wujud sana sini
Tanpa
suara namun terdengar gemuruh
Tanpa
cita-cita namun selalu beradu dengan waktu
Akhirnya, hujan pun terpahami dan bertanya kepada
hewan tumbuhan
Dan penghuni negeri,
“Mau dikemanakankah nyawa yang kau miliki?”
Hujan, kau masih saja polos
Walau tuturmu kini menusuk hati yang peka
Kendari/minggu,
07 Juni 2015
Bosan
Bisa
dibilang, berjam-jam terbuang
Menatap
kertas kosong seperti balik menatap
Membuat
pena malu kembali menari
Membuat
waktu berlalu tanpa inspirasi
15
Juli 2015
Waktu
Berjalan
Waktu
berbicara tentang masa lalu
Puisi
berbicara tentang masa depan
Beranda
memaksa mendewasakan
Keranda
mengangkut kenangan
15
Juli 2015
22
Juli 2015
Masalah akan pudar dengan tawa
Tawa menyatukan masalah
Aku
sang peluka, memiliki kisah di balik cedera
Maaf
Sebelum Mati
Jodohku
adalah maut
Rejekiku
adalah maut
Jadi
sebelum bertemu jodohku
Dan
sebelum rejeki datang kepadaku
Aku
ingin berlisan maaf padamu
Orang
yang telah dinodai dosaku
Minal aidzin walfaizin
Mohon maaf di dalam
khilaf
Kendari,
18 Juli 2015
Taman
Kota dalam Kata
1 Tempat
ibadah telah berbunyi
Menandakan
jarum jam kembali terbagi
Pendek
ke timur, panjang ke utara bumi
Sore ini. Renungan pecah sore hari
Berpuisi.
Inspirasi datang sore ini
Duduk
di bangku seperti milik sendiri
Ditemani
buku kumpulan puisi Ishadi
Baru
terbeli. Tadi
2 Semut
menjalankan aktifitasnya
Mencari
sari manis rasanya
Sedangkan
aku memandang-hilang manis parasnya
Di
bawah pohon taman kota
Sang
penyair merasa sepi dalam keramaian kata
Maka
dari itulah, karena sepi itulah
Puisi
hadir untuk mengabadikan taman kota
Mengabadikan
dalam kata
Tamkot
Kendari/ senin, 20 Juli 2015
Putra
Tidur
Bangun. Baju semalam masih melekat
Begitu pula mimpi masih lembab
Kisah remaja tentang kasih dewasa
Jadi tak apa jika terjamah adalah
puisi
Kemudian
diam bersuara
Melantangkan
yang telah ia saksikan
Gelap
pun ikut berbicara
Menyuarakan
hak-hak di kegelapan
Jadi,
setelah Putra tidur bangun
Cuci
muka, cuci mimpi, cuci puisi
Dan
mencuci inspirasi yang telah ternodai
Kendari,
12 Juli 2015
Kendari,
Kota Berkembang
1 Sedari
SD hingga menyelesaikan 12 tahun pendidikan formal
Negaraku
masih saja negara berkembang
Bukankah
sekarang sudah berusia 70 tahun?
Bukankah
sekarang presiden sudah kesekian?
Sampai
kapan?
Apa
sampai semua penyair terkenal?
Atau
sampai awan tak ada di bayang?
2 Kotaku saja banyak mengadopsi palsu. Pesawat
palsu, tank palsu, tugu palsu,…
Bahkan
ada bernama janji palsu
Jadi
salah siapa?
Salah
penyair? Salah teman-teman penyair?
Atau
salah awan hanya luruh berwujud hujan?
Sedari
dulu, hingga sekarang kota dan negaraku masih saja berkembang
Kendari/rabu,
22 Juli 2015
Ternyata
Aku Tak Muda lagi
Ternyata
aku sang penyair tak muda lagi
Namun
jiwa muda masih sering terbit
Dalam
perilaku dan perbuatan
Pagi
hari, bangun mandi lalu berpuisi
Berpetualang
dalam puisi
Menggugah
kisah-kisah di puisi
Di
dalam puisi, bertemu dengan kisah sedih
Bertatap
bayang dengan kisah kasih
Dan
di dalam puisi, berpuisi hingga tertidur kembali
Dan
mati
Ternyata
aku sang penyair tak muda lagi
Kendari, 23 Juli 2015
Abadi
Hidup Penuh Puisi
Membangunkan
tangga
Dari
lelap tidurnya
Menapaki
langkah di tiap anak tangga
Naik.
Hingga langit, lalu menanam awan
Menaburkan
bibit-bibit hujan
Merawat
dengan acuan doa harapan
Semoga
benih ini, bisa bertahan dengan angin kedewasaan
Tak
terkira, pena pula terjaga
Menjaga
mimpi tiap kata
Menjaga
cita tiap bocah
Pernah sekali tangga tumbang, pena tenggelam.
Terulang-ulang
Namun ketika terbiasa, mereka pun abadi dalam hidup
penuh puisi
Kendari/jumat,
24 Juli 2015
Rasa
yang Tak Harus Ada
Membaca
puisi di dalam kegelapan
Begitulah
gambaran cinta di dalam angan
Berusaha
menyimpan rasa tertahan
Tanpa
cahaya tanpa arah
Tak
pernah bisa tahu, apa kata apa makna
Menulis
puisi di dalam kegelapan
Begitu
pula cinta pernah ingin diungkapkan
Berusaha
menyimpan rasa yang tak teraba
Tanpa
cahaya tanpa arah,
Pena
tak pernah bisa tahu, tulis apa cerita apa
Berpuisi
di dalam kegelapan
Dan
ketahuilah, cinta berusaha tak diperdengarkan
Jadi
berusaha menyimpan rasa
Benar-benar
tak harus ada
Kendari/jumat,
24 Juli 2015
Ada
Jalan Setapak
Lahir,
di beranda ada jalan setapak
Tumbuh,
di jalur pulang-pergi ada jalan setapak
Bahkan
berpuisi di pandangan ada jalan setapak
Kisah
sejarah, terkenang dengan sendirinya
Pena
merasa peka. Akhirnya mempuisikannya
Kemudian
berubah. Perubahan terjadi setelah demokrasi
Di
Kendari. Kota bernama Bumi Anoa
(julukannya
mulai punah)
Mengacu
pada tragedi. Semakin ke sini kota semakin bersih
Bersih
dari awan, bersih dari tentram
Bersih
dari seniman dan bersih dari kebersihan
Lahir
dan berpuisi, di beranda ada jalan setapak
Kendari/selasa,
28 Juli 2015
Sensi
Mendengar Kata ‘Awan’
Setiap mendengar kata ‘awan’
Selalu ingin mempayungi diri dan hati. Untuk
bersembunyi
Sebab awan melayang di atas kepala menyembunyikan
sesuatu yang senang dan sedang mengendap
Pasti, yakin. Yakin pada rasa itu
Sebab-akibat, was-was dengan sesuatu di balik awan
Entah itu mentari, pelangi, atau puisi-puisi lama,
tua dan merasa tak berguna
Atau mungkin duka berwujud hujan, suka berwujud awan
hitam
Atau sebuah cinta sedari dulu mengendap di balik
awan
Belum dipastikan
Namun percaya diri dan percaya
puisi
Maka dari itu, setiap mendengar
kata ‘awan’
Selalu ingin mempayungi diri dan
hati. Untuk bersembunyi
Di dalam puisi
Kendari,
04 Agustus 2015
Cerita
Hari Ini
Sebelum tidur cuci kaki, sikat gigi, berpuisi, dan
berharap berjumpa di dalam mimpi
Bangun pagi. Mandi, berpuisi, dan kembali
membayangkan di dalam mimpi nyata ini
Sang penyuka tak memiliki harta berharga. Mengerti
saja jika mengaku suka lalu menjauh. Tak ada apa-apa. Karena sebenarnya hanya
kumpulan kata, dirakit menjadi bait dan puisi. Kemudian, lagi-lagi (seperti
cerita lama) saling cinta dan saling punya rasa yang sama. Tapi tak pernah
saling memiliki dan tak pernah memiliki hubungan yang nyata.
Kendari/kamis,
06-08-2015
Tertawa
dan Bersuara
Tertawa
bahagia. Tertawa suka. Tertawa duka? Adakah?
Bukankah
umur sudah cukup menjadi bijaksana?
Atau
kenakalan remaja belum cukup berbanyak salah?
Di
sini, kursi taman kota
Tempat
lahirnya kumpulah kata (puisi namanya)
Bertemu
kawan lama, Reza
Sedangkan
di sana, di kursi-bangku lainnya
Ada
yang berisi pemuda
Ada
pula sedikit kenangan bersama wanita
Kemudian
pandangan berubah arah
Pemikiran
gila menjadi dewasa
Terus
berusaha berkata
Sementara
sepi dan sendiri juga terus bersuara
Kendari,
19 08 2015
Luka
dalam Cinta
Jangan salah paham. (mungkin) tak lagi meleburkan
cinta dalam kata
Sebab kata dan cinta, sama-sama membuat luka
Ya, walaupun bila menyatu mereka akan sempurna
Tapi kesempurnaan dalam luka apa tak sia-sia?
Apa hati tak akan berdarah?
Jadi, cinta ya cinta! Luka ya luka!
Sedangkan luka adalah perwujudan dari leburnya cinta
dalam bentuk kata
Seperti sedang dirasa seorang penyait bernama Putra
(ketika
melahirkan Luka dalam Cinta)
Berkata mencinta tapi didapat luka
Luka dalam rasa
Luka dalam peka
Luka dalam tatapan mata
Dan tentu saja, luka dalam cinta
Kendari/minggu,
23 08 2015
Turun
ke Hati Menjadi Luka
Seseorang telah katakan cinta
Di
depan mata berdiri (mesra) bersama seorang pula
Kemudian tertawa karenanya
Tersenyum kepadaku
Jadi bisa apa? Membalas senyum?
Sebenarnya … -pahamilah bagaimana hati terasa-
Atau harus ikut larut dalam semua
tawa itu?
Bukankah itu namanya ketidakjujuran?
Semakin tertawa semakin luka
Semakin
lama bertatap mata juga semakin luka
Akhirnya, cinta ini membuat sadar
Bahwa jatuh cinta itu berawal dari
tatapan mata
Dan dari mata, turun ke hati
Menjadi luka
Kota
Kendari
Senin,
24 08 2015
Hantu
Mayang
Di
imaji, ada hantu gentayangan. Hantu Mayang
Dia,
lalu lalang dengan senyuman
Terbang
seolah-olah menebar harapan
Seseorang
berkata adalah kebodohan
Puisi
adalah kebohongan
Sementara hantu gentayangan
adalah kisah di dalam kenangan
Punya
cinta tapi tak bisa beri jaminan untuk tetap beradu dengan harapan
Karena
di imaji, ada hantu gentayangan. Hantu Mayang
Kendari/senin,
24 08 2015
Kembali
Nostalgia
Kembali
beradu dalam dimensi nostalgia
Berada
dalam enam sisi mati, kamar mati suri
Kemudian
kegelapan menjadi teman hati
Cahaya
luar mengintip dari sela-sela pintu terkunci
Sementara,
terjadi sebenar-benarnya kebenaran adalah membayangkan pencuri yang pernah
ditemui
Ia
telah curi sesuatu, bisa dibilang inspirasi
Ini
membuat pena tak tentram setiap hari
Seolah
ingin bersiteru dengan buku dan mimpi
Melahirkan
puisi
-entah, akan jadi korban atau hal lainnya
lagi-
Kendari/Agustus
2015
Proklamasi
Cinta
Hai
cinta yang mengakibatkan luka
Kau
telah melahirkan luka di hati yang peka
Hai
hantu yang selalu bersandiwara
Kau
telah menakuti jiwa di dunia suka
Aku
akan menyembunyikan di dalam peti-peti sastra
Akan
mengubur di dalam suka duka sastra
Kemudian,
di hari kemerdekaan
Cinta
dan jiwa berbicara
Didengar
ribuan pena, ratusan pembaca:
Proklamasi Cinta
Aku, penyair Indonesia menyatakan
dengan ini masih mencinta. Hal-hal mengenai kisah suka dan duka diselenggarakan
dengan rasa setia dan dalam tempo selama-lamanya.
Kendari, Agustus 2015
Atas
nama Penyair Indonesia
Putra-Cinta
Kuberi
Puisi
Aku
(mungkin) pergi sebelum waktunya kumati
Kau
(pasti) mencintai setelah aku pergi mati
Jadi,
mau kamu apa? Mau puisi atau mau hati?
Sebenarnya
hatiku adalah puisi yang pernah kuberi
Kendari, 15
September 2015
Masa
Kegelapan
Terjebak. Mencoba tuk tak mati. Kemudian jatuh hati
lagi
Kehilangan hal jadi alasan, kebersamaan menjadi tak
tergantikan
Bukan tujuan, bukan akhiran. Hanya sesuatu hilang
dan dirindukan
Tersesat.
Kebenaran yang hitam, gelap dan lenyap
Merangkak,
tengkurap. Kemudian meniru tanda kutip
Hilang tak dicari. Sebab sesuatu yang hilang itu,
sebenarnya bukan hilang.
Namun
lebih dewasa dan pergi
Meninggalkan
jebakan. Menyisahkan kegelapan
Hilang
arah? Ya, arah juga hilang
Tak
kasat oleh cita, cinta dan rasa
Akhirnya
dapat merasakan seninya terjebak,
Tersesat,
hilang arah, dan semua yang ada di gelap.
Kendari/November
2015
Bersama
Mereka Ada Tawa, Bersama Mereka Ada Cerita
Kisah mulai terterah. Di antara
rasa ingin selalu suka.
Malam seperti biasa. Menjadi istimewa bersama mereka.
Atap menampung para pria. Bersama di waktu masih berjiwa.
Aku lupa akan cita-cita, bahkan sempat lengah menarikan pena.
Kembali nyata, kembali merasa di dunia.
Namun lihat setelah lewat musim mangga,
Apa iya, bersama mereka masih ada rasa suka?
Jika iya, aku akan mengabadikan mereka dalam beribu kata yang kurangkum dalam
satu jiwa dan luka
Bersama mereka ada tawa, bersama
mereka ada cerita
Kendari/November
2015
#LorongMacan
Kisah
Perjaka
Setelah usai bersepeda, sepeda seperti
tak beroda
Perjaka menghempaskan lelahnya
Memaki kesendirianya
Disaksikan teh Jasmine pesanannya
Sendiri? Ya, Perjaka merasa
sendiri
Walau berada dalam keramaian
kata,
Wanita, dan mimpi-mimpi karya
Tak berongga, cita-cita seperti
bolong. Tak berongga
Perjaka menyadari sesuatu dari
kesendirian menyelimuti
Bahwa sepi sebenarnya adalah
inspirasi
Jadi, perjaka mengambil pena,
sepeda
Kertas, roda, dan buku
Kemudian, dikayuh semua
Menjadi sesuatu yang abadi
Kendari/2015
Pesan
Pagi Hari
Pagi
cerah untuk membuat nyata mimpi tadi malam
Bersama
rasa yang ada di hati,
Dan
tak peduli jika naïf dengan keinginan sehidup semati
Tentang sebuah masa yang akan datang
Tentang
caranya menerima bukan melupakan
Begitu
pula keabadian cinta,
Akan
terus bersuara
“Selamat pagi! Selamat membaca puisi.”
Kendari,
26-11-2015
Tak
Tahu Diri, Tak Tahu Hati
Terlalu dini untuk jatuh hati
Waktu tertatih datang sebentar
lagi
Sangsi? Ada di jalan yang akan
dilalui
Kemudian, setelah awan luruh
bersama rindu
Apa langit akan cerah seperti
mimpi indah?
Jika cinta bisa salah, ini adalah
waktunya
Jumat pagi dalam Kota Kendari
27/11/2015
Air
Mata Luruh bersama Hujan
Tidak
terlalu pagi untuk berpuisi
Tidak
terlalu dini untuk mengganti yang di hati
Hujan malam tadi, menghanyutkan
rasa yang (ingin) abadi
Juga meluluhkan semua debu
berbentuk air mata
Membuat luka kembali basah
Tak seperti hati, kaki memilih
jalan tanpa henti
Berjalan meninggalkan penyebab
luka hati
Mencari sesuatu baru yang juga
bisa saja membuat luka lagi
Kendari,
13 Desember 2015
Puisi
di dalam Puisi
Pernah berangan tuk pergi menjauh
Namun baru langkah keseribu,
sudah merindu
Dan setelah rindu, bangun dari
tidur
Suatu hari, ada seseorang bernama
Lugu berwajah kaku
Bersahabat dengan Lagu dan Buku
Suatu ketika ia telah dewasa, Ia
berubah nama menjadi Semu
Kini ia berteman dengan Rindu
Dan ucapnya selalu tak tahu
“Siapa
namamu?, tak tahu
siapa
kau rindu?, tak tahu
siapa
terbunuh?, tak tahu
jadi,
apa yang kau tahu?, tak tahu”
Kemudian, hari keseribu satu
Ia menemukan secarik kertas kaku
Di dalamnya ada puisi berjudul
lugu
Sedang beradu dengan waktu
Lugu
Dulu
namaku Lugu. Sekarang namaku Semu
Dulu
sahabatku Buku. Sekarang temanku Rindu
Aku
rindu masa laluku dan akan kubunuh masa sekarangku
Jadi,
aku tahu diriku adalah seorang pembunuh waktu
Kendari, Desember 2015