PANDU LAUT
di PANTAI NAMBO-KENDARI
OLEH: PUTRA HANUDDIN
BAB 1
“NAWA CITA SEBAGAI KESADARAN BARU”, adalah salah satu judul
kecil dalam buku ‘LAUT MASA DEPAN BANGSA Kedaulatan, Keberlanjutan,
Kesejahteraan’, yang diterbitkan dalam bentuk E-Book oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia
masa kepemimpinan Susi Pudjiasuti. Dalam salah satu paragrafnya adalah
berbunyi;
“Kita
telah lama memunggungi samudra, laut, selat, dan teluk. Maka, mulai hari ini,
kita kembalikan kejayaan nenek moyang sebagai pelaut pemberani, menghadapi
badai dan gelombang di atas kapal bernama Republik Indonesia,” kata Jokowi
dalam pidato kenegaraan pertamanya setelah bersumpah sebagai Presiden Republik
Indonesia periode 2014-2019 di Gedung MPR/DPR, 20 Oktober 2014.
BAB 2
Pandu Laut adalah gerakan bersama yang melibatkan seluruh
lapisan masyarakat untuk bergandengan tangan dalam mengelola laut dan seisinya
secara bijak, menjaga kelestariannya agar tetap bisa melayani kehidupan karena
laut adalah masa depan bangsa Indonesia. Komunitas Pandu Laut dicanangkan
secara resmi oleh tokoh kelautan nasional sekaligus Menteri Kelautan dan Perikanan,
Susi Pudjiastuti. -@pandulaut.id-
“Indonesia menyumbang sampah plastik terbanyak nomor dua di dunia. Pada saat
itu, berat sampah plastik yang disumbang 187,2 juta ton.” –Jenna R. Jambeck,
peneliti dari Universitas Georgia, Amerika Serikat-
Melalui Komunitas Pandu Laut kita diingatkan Ibu Susi bahwa negara
kita Indonesia adalah negara kepulauan seluas hampir 2 juta kilometer persegi. Wilayah lautnya 70% dari luas negara dengan 17.504
pulau yang tersebar dari barat ke timur dan membentang dari utara ke
selatan. Indonesia juga punya pantai terpanjang ketiga di dunia, yakni 99.093 kilometer. Berada di garis
khatulistiwa, iklim tropis Indonesia mendukung keberagaman hayati yang ada di
dalamnya. Laut Indonesia adalah rumah
bagi 75% spesies terumbu karang yang ada pernah ditemukan di seluruh dunia.
Menjadi ekosistem bagi sedikitnya dari 2.200
jenis ikan yang mampu hidup dan berkembang dengan baik. Kemudian dalam
memperingati hari ulang tahun ke 73 Republik Indonesia diadakan gerakan
bersih-bersih pantai MENGHADAP KE LAUT yang dilaksanakan secara serentak di 73
titik sepanjang pesisir pantai seluruh Indonesia terbagi di Pulau Sumatra ada
12 lokasi, pulau Jawa ada 19 lokasi, pulau bali, NTB, NTT ada 09 lokasi, pulau Kalimantan
ada 04 lokasi, pulau Sulawesi ada 16 lokasi, pulau Maluku ada 04 lokasi, dan
pulau Papua ada 09 lokasi. Di Provinsi Sulawesi Tenggara sendiri ada 03 lokasi,
yaitu; Pantai Nambo - Kota Kendari, Pulau Bokori - Kabupaten Konawe, dan
Wangi-wangi – WAKATOBI.
Dalam suatu kesempatan Ibu Susi selaku Menteri Kelautan dan
Perikanan juga memberi himbauan ke masyarakat yang berbunyi ;
“Laut Indonesia harus bebas dari perusak dan pencuri ikan, tidak hanya
berhenti pada penenggelaman kapal ikan ilegal. Kita harus bisa mengelola harta
karun masa depan kita untuk anak cucu dan masa depan bangsa Indonesia.”
BAB 3
Sabtu sore saya lihat story IGnya
kak Fika, asisten pribadinya Ibu Menteri Susi Pudjiastuti yang dulu saya kira
diami Putri Duyung yang saya cari-cari, pas saya tahu saingan-sainganku sekelas
sama Reza Rahardian saat itu juga saya jadi tahu juga kalau Kak Fika memang
bukan Putri Duyungku. Terus, selesai saya lihat itu storynya tentang
bersih-bersih pantai yang pas saya perhatikan ternyata gerakan itu berjumlah
73, sesuai dengan hari peringatan Republik Indonesia yang karena itulah
diadakan bersih-bersih pantai di 73 lokasi. Lalu lebih hebat lagi, Kota Kendari
adalah salah satu titik gerakan itu yang terletak di Pantai Nambo. Sulawesi Tenggara
sendiri dapat bagian 3 lokasi, yaitu; pertama di Pantai Nambo-Kendari, kedua di
Pulau Bokori-Konawe, dan ketiga di Wangi-wangi – WAKATOBI. Jadilah saya merasa harus
ikut andil dalam kegiatan itu, siapa tahu saya lagi asik bersih pantai lansung ketemu
betul Putri Duyung atau setidaknya ketemu Ibu Susi untuk minta diajarkan bawa
Padling.
Selesai saya cari informasi penuh
tentang kegiatan bersih pantai di Pantai Nambo Kendari, juga sudah stalking
akun @pandulaut.id , saya jadi tahu kalau gerakan itu akan diadakan secara
serentak di 73 titik, yang mana untuk koordinator di Kendari atas nama Mansyur
dari KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan) yang saat itu juga saya lansung
WA nomornya dan tidak perlu waktu lama untuk dapat informasi kalau saya boleh
terlibat dalam gerakan itu. Beliau memberi info untuk datang jam 12.30 siang
dan kumpul di gerbang Nambo biar sama-sama masuk agar saya tidak perlu bayar
tiket masuknya. Kemudian, saya menyiapkan botol minum sendiri sesuai yang
terterah dikronologi @pandulaut.id, sama baju warna putih dan sepatu (pemberian
mantan).
Adapun dampak dari pembuangan sampah di laut tersebut
telah diketahui berdampak ke berbagai aspek, seperti polusi plastik, ekologi,
kesehatan, ekonomi, dan lain-lainnya. #GENBISULTRA
Besoknya saya cek dan ingat-ingat
kembali apa yang perlu saya bawa ke Nambo. Karena baju putihku lengan pendek,
jadi saya siapkan dua baju yang satunya adalah lengan panjang supaya tidak
terlalu terasa panasnya, soalnya siang-siang di Pantai setahuku panasnya beda .
Pas sudah siang, saya terlambat berangkat karena terlalu santai, yang harusnya
jam 12.30 sudah di sana tapi saya berangkatnya yang jam 12.30, jadinya agak
balap di perjalanan. Sampai di Pantai Nambo ternyata mereka sudah di dalam semua,
dengan terpaksa karena saya terlambat jadi saya bayar uang masuk, 10ribu. Sambil
saya jalan masuk, sambil perhatikan dari ujung ke ujung pantai yang pas saya
perhatikan ada tiga gazebo yang punya musik. Dari ujung kiri ada komunitas dari
Grab Kendari, di bagian tengah yang saya lihat ada orang lagi Molulo, terus di
ujung kanan ada orang lagi absen dan pas saya perhatikan spanduk yang terikat
di rumah panggung ternyata sudah itumi rombongannya. Tapi karena tidak ada saya
kenal, bahkan KKP-Masnyur saya tidak tahu bagaimana mukanya, jadi saya lansung
masuk-masuk saja dan tanya sama orang yang lagi bagi-bagi pita dan kantong
plastik merah yang saat sudah berlansung acara saya tahu kalau yang tadi saya
tanyakan adalah salah satu mahasiswa dari UMK. Terus saya isi juga absen, dapat
pita hijau dan kantong plastik. Ada mungkin setengah jam selesai isi absen,
yang pegang mic dia panggil semua
untuk berkumpul di depan rumah panggung yang ternyata kegiatannya dimulai
dengan upacara pembukaan. Pemimpin barisan sudah atur barisan, pembawa acara
lansung mengambil alih. Terus secara otomatis pembukaan itu mengalir. Mulai sambutan-sambutan
dari perwakilan instansi-instansi yang bersangkutan dan dari pemerintah,
koordinator lapangan menjelaskan 4 kelompok yang terbagi sesuai warna pita yang
dikasih, terus dibuka secara resmi kegiatannya, dan terakhir doa. Setelah upacara
pembukaan, peserta dipersilahkan menikmati kopi dan kue-kue yang sudah disediakan
panitia. Sambil menunggu tepat jam 2 siang untuk menyanyikan lagu Indonesia
Raya secara serentak di seluruh Indonesia. Terus lansung lanjut ke acara inti,
bersih-bersih pantai. Sudah ada juga koordinator kelompok masing-masing, mereka
juga bertugas memisahkan sampah yang terkumpul sesuai jenisnya kemudian
ditimbang dan dicatat oleh panitia. Dalam kegiatan, saya ketemu rombongan UHO
yang sedang KKN di Sambuli, tidak jauh dari Pantai Nambo berjumlah 4 orang. Hanya
Kordesnya mereka yang saya kenal, Ibnu dari Fakultas FISIP, yang dari
penjelasannya kalau 3 orang temannya itu punya program bersih-bersih pantai,
makanya mereka sekalian merangkaikan dalam kegiatan ini.
“Membuang sampah plastik sembarangan seperti
memupuk dosa bagi bumi yang tak akan bisa terurai oleh doa-doa.” –BKIPMKendari-
Sekitar 30 menit lebih peserta
keliling memungut sampah, koordinator kelompok memilah sampah sesuai jenisnya,
dan setelah itu karena sampah yang dikumpulkan kelompok 4 banyak sekali dan
setengah mati kalau diangkat menuju rumah panggung tempat sampah ditimbang,
jadi saya ditugaskan untuk pergi melapor ke panitia agar mobil pengangkut
sampah yang dibawa ke sana. Panitia lansung setuju, tapi sebelumnya
sampah-sampah itu harus ditimbang dan dicatat. Jadilah saya bersama salah satu
panitia mengangkat timbangan dari rumah panggung menuju tempat kelompok 4 mengumpulkan
sampah yang lokasinya berada di bagian ujung pantai.
Setelah semua kelompok selesai
membersihkan, peserta disuguhkan lagi kue dan es buah segar. Lalu upacara
penutupan dilaksanakan, dari penutupan itu saya jadi kalau kegiatan ini akan
menjadi kegiatan tahunan KKP dan berikutnya akan dilaksanakan di tempat yang
berbeda, kemungkinan di Teluk Kendari. Setelah upacara penutupan, panitia
mendokumentasikan semua peserta. Selesai.
Laut bukan tempat sampah.
Minggu, 19 Agustus 2018